
Bengkulu, satukanindonesia.com – Peristiwa penembakan terhadap lima petani di Desa Kembang Seri, Kecamatan Pino Raya, Bengkulu Selatan, pada Senin, 24 November 2025, kembali membuka luka lama konflik agraria di Indonesia.
Insiden tragis ini diduga kuat dilakukan oleh pihak keamanan perusahaan perkebunan sawit PT Agro Bengkulu Selatan (PT ABS) dan menandai eskalasi baru dari konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
BEM Fakultas Pertanian KBM Universitas Bengkulu menyampaikan kecaman keras atas tindakan intimidasi dan kekerasan tersebut, yang tidak hanya mencederai nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga memperparah situasi konflik yang selama ini membebani masyarakat.
Kami menilai bahwa aparat kepolisian, pemerintah daerah, dan lembaga hak asasi manusia memiliki tanggung jawab penuh untuk hadir membela kepentingan rakyat.
Oleh karena itu, kami mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penembakan tersebut secara transparan dan akuntabel serta memproses seluruh pihak yang terlibat sesuai hukum yang berlaku.
Pihak perusahaan juga harus bertanggung jawab penuh atas tindakan kekerasan yang terjadi di sekitar wilayah operasi mereka dan menghentikan segala bentuk intimidasi terhadap petani.
Pemerintah daerah maupun pusat kami minta untuk segera mengambil sikap tegas atas pelanggaran yang terjadi dan memastikan perlindungan nyata bagi masyarakat di Bengkulu Selatan.
Kami juga menuntut dilakukannya investigasi independen yang melibatkan lembaga HAM, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil guna mengungkap fakta sebenarnya di lapangan.
Pemerintah harus meninjau ulang dan mengevaluasi izin operasional perusahaan, termasuk aspek legalitas lahan dan dampak sosial yang ditimbulkan.
Perusahaan wajib membuka ruang dialog terbuka dan adil dengan petani untuk menyelesaikan sengketa lahan tanpa kekerasan. Selain itu, pemulihan dan kompensasi bagi seluruh korban, baik fisik, psikologis, maupun material, harus segera diberikan sebagai bentuk tanggung jawab dan pemulihan hak-hak masyarakat. Negara juga perlu memperkuat perlindungan terhadap hak agraria masyarakat sebagai bagian dari komitmen terhadap keadilan sosial dan ketahanan pangan nasional.
BEM FP KBM UNIB menyerukan solidaritas seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas.
Jika konflik ini tidak diselesaikan secara menyeluruh, maka potensi eskalasi dan kerugian yang lebih besar bagi petani serta tatanan sosial akan terus menghantui.
Perjuangan agraria adalah perjuangan rakyat, dan kami berkomitmen untuk terus berdiri di garis depan dalam mengawal keadilan. (Frayoga)













