JAYAPURA, SatukanIndonesia.com – Sebuah lembaga pemikir konservatif Amerika Serikat mengusulkan pembentukan “Piagam Pasifik‘ yang bertujuan memperkuat kehadiran United States di kawasan Pasifik.
Dalam laporan terbarunya, The Heritage Foundation menilai Tiongkok sedang mengincar negara-negara Pasifik yang dianggap rentan terhadap berbagai ancaman keamanan, termasuk perdagangan Narkoba lintas negara. Demikian dikutip dari laman internet RNZ Pasifik, Kamis (12/03/2026).
Lembaga yang memiliki kedekatan dengan Partai Republik tersebut juga dikenal berpengaruh terhadap Presiden AS, Donald Trump, terutama melalui platform kebijakan Project 2025 yang menjadi panduan kebijakan konservatif menjelang pemilihan presiden 2024.
Dalam laporan berjudul A Charter of Pacific Values for a Prosperous Pacific Future, disebutkan negara-negara Pasifik berada dalam posisi yang rentan pada masa yang sulit, sehingga membuka peluang bagi kekuatan luar untuk memanfaatkan situasi tersebut.
Laporan itu juga mengusulkan agar negara-negara Pasifik menyelaraskan agenda kebijakan mereka, sementara Amerika Serikat membentuk Pacific Partners Commission serta menunjuk seorang Pacific Advisor di United States National Security Council.
“Hubungan kerja sama antarnegara Pasifik yang lebih luas kini mulai tergeser oleh kepentingan aktor eksternal, dan agenda Pasifik berisiko dibentuk oleh kekuatan besar dari luar kawasan,”tulis laporan tersebut.
Tanpa keterlibatan negara-negara Barat, laporan itu menilai Tiongkok dengan “kesediaannya menggunakan pengaruh politik dan manuver untuk memajukan kepentingan sempitnya’ berpotensi memperkuat dominasinya di kawasan.
Dua penulis laporan, Allen Zhang dan Brent Sadler, mengusulkan piagam yang bersifat tidak mengikat. Piagam tersebut, menurut mereka, bukan untuk “memaksakan nilai atau menentukan hasil’, melainkan untuk “menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar serta memperkuat solidaritas kawasan’.
Laporan itu juga menyebut piagam tersebut dapat mendorong negara-negara Pasifik untuk menolak pengaruh dana dari Tiongkok, misalnya melalui proyek-proyek pembangunan infrastruktur.
Selain itu, langkah ini dinilai dapat mempererat hubungan antara negara-negara kepulauan Pasifik dan kekuatan pertahanan Amerika Serikat.
“Prinsip-prinsip tersebut sering kali diabaikan demi proposal kerja sama bilateral yang menguntungkan secara finansial dan kerap dikompromikan ketika dianggap menguntungkan secara pribadi atau lokal.
“Ketika negara-negara di kawasan menyetujui sebuah piagam, mereka menerima standar perilaku yang melampaui sekadar pernyataan aspirasi, seiring waktu, negara-negara akan mulai menilai keputusan strategis mereka berdasarkan seperangkat prinsip dasar tersebut.”
Sementara Gedung Putih belakangan mulai menunjukkan perhatian lebih terhadap kawasan Pasifik, antara lain dengan menggelar forum bisnis di Honolulu pada awal Februari.
Presiden Trump juga menyatakan ketertarikannya terhadap potensi mineral penting di dasar Samudra Pasifik, yang memicu pembicaraan penambangan laut dalam dengan Cook Islands dan Tonga.
Calon Duta Besar AS untuk Selandia Baru, Jared Novelly, bahkan menyebut terdapat “peluang yang sangat besar’ di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Cook Islands. [GRW]













