
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Pemilu Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan Selasa, (3/11/2020) bakal menjadi pemilihan umum ke-59 di negara Paman Sam.
Hasil survei menunjukkan Joe Biden unggul cukup jauh dari Donald Trump, tetap di 6 negara bagian yang menjadi battleground, keunggulan tersebut menipis.
Survei terakhir yang dilakukan oleh NBC News/Wall Street Journal secara nasional menunjukkan Joe Biden masih diunggulkan dengan memperoleh 52% suara dalam survei tersebut, sementara Donald Trump 42%.
Sentimen pilpres Amerika Serikat (AS) yang berlangsung hari ini ditambah kabar sudah ditekennya UU Cipta Kerja oleh Presiden Joko Widodo tadi malam membawa pengaruh signifikan pada pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah.
Nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah pagi ini berada di level Rp 14.620 atau melemah sekitar 46 poin (0,3%) dari level kemarin. Diyakini nilai tukar dolar AS bakal terus melemah atau dengan kata lain Rupiah bakal terus menguat.
Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, penguatan nilai tukar rupiah ini terjadi sebab pasar tengah menyambut positif kedua sentimen tersebut.
“Artinya apa bahwa pasar merasa senang, meresa happy dengan pilpres di AS, kemudian data ekonomi di Tiongkok cukup bagus, kemudian UU Cipta Kerja ditandatangani oleh pemerintah yaitu oleh Presiden Joko Widodo,” ujar Ibrahim, seperti dikutip detikcom, Selasa (3/11/2020).
Rupiah sepanjang pekan ini kemungkinan besar akan semakin menguat ke level Rp 14.500.
“Kalau seandainya tembus di Rp 14.500 kemungkinan besar rupiah itu akan, di bulan-bulan November ini dia akan kembali ke Rp 14.350,” sambungnya.
Namun, penguatan di level Rp 14.350 itu hanya bersifat sementara untuk kemudian bakal melemah lagi di rata-rata Rp 14.500 sampai akhir tahun.
“Tetapi nanti akan kembali lagi melemah dan kemungkinan besar akan ditutup di akhir tahun di Rp 14.500 an,” imbuhnya. (*)













