
JAKARTA, satukanindonesia.com – Sebuah lembaga kajian kebijakan luar negeri AS mengusulkan perubahan besar dalam strategi militer Amerika di Asia yang akan menempatkan Guam, Kepulauan Mariana Utara, dan pulau-pulau Pasifik lainnya sebagai pusat postur militer regional Washington.
Defense Priorities, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington mengatakan, AS harus memindahkan sebagian besar kehadiran militernya dari “rantai pulau pertama”, termasuk Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Filipina, dan memusatkan lebih banyak pasukan di sepanjang “rantai pulau kedua” yang lebih jauh, sebagaimana dilansir dari laman RNZ Pasifik, Selasa (15/09/2026).
Proposal tersebut mengidentifikasi Guam, Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara (CNMI), Palau, Negara Federasi Mikronesia, dan Kepulauan Marshall sebagai lokasi di mana pasukan AS dapat ditempatkan lebih jauh dari garis pantai Tiongkok.
Berdasarkan strategi yang diusulkan, Tinian di CNMI dapat menjadi salah satu dari beberapa pangkalan udara kecil yang digunakan untuk menyebar personel dan aset militer AS, di seluruh Pasifik.
Dalam sebuah penjelasan berjudul Strategi rantai pulau kedua untuk Asia, peneliti Defense Priorities, Jennifer Kavanagh mengatakan, AS sudah memiliki setidaknya 8000 personel militer di sepanjang rantai pulau kedua, sebagian besar di Guam.
Alih-alih meningkatkan jumlah tersebut secara signifikan, lembaga kajian tersebut mengusulkan untuk menyebar personel ke seluruh Guam, Palau, Kepulauan Marshall, Negara Federasi Mikronesia, dan lapangan terbang yang lebih kecil seperti Tinian.
Disebutkan bahwa lokasi-lokasi ini dapat menampung unit intelijen dan pendukung tempur, pertahanan udara, drone, dan kelompok kecil Marinir yang dilengkapi dengan rudal anti-kapal bergerak.
Strategi ini juga menyerukan agar pesawat tempur dan pesawat khusus lainnya beroperasi dari gugusan pulau kedua, sementara kapal selam akan tetap berbasis di Guam dan kapal angkatan laut akan bergiliran beroperasi di wilayah tersebut.
Defense Priorities berpendapat, memindahkan pasukan lebih jauh dari garis pantai Tiongkok akan membuat pangkalan AS lebih mudah bertahan sekaligus mengurangi risiko Washington terlibat dalam konflik besar dengan Beijing.
Guam akan tetap menjadi pusat logistik dan pangkalan penting untuk aset militer jarak jauh, tetapi penyebaran pasukan di wilayah Pasifik yang lebih luas dapat membuat militer AS kurang bergantung pada pulau tersebut.
Usulan ini muncul ketika militer AS sudah berinvestasi dalam infrastruktur di Kepulauan Mariana Utara, termasuk fasilitas di Tinian untuk mendukung peningkatan operasi militer.
Namun, proposal Prioritas Pertahanan melangkah jauh lebih dari sekadar memperluas infrastruktur militer di Pasifik.
Proposal ini menyerukan agar Amerika Serikat (AS) pada akhirnya mengakhiri aliansi pertahanan bersama dengan Korea Selatan, Australia, Filipina, dan Jepang, dan menggantinya dengan kemitraan keamanan yang lebih sempit.
Laporan tersebut juga merekomendasikan, Washington mengadopsi kebijakan non-intervensi yang eksplisit terhadap Taiwan.
Lembaga kajian tersebut mengusulkan untuk menarik sebagian besar penempatan Angkatan Darat dan Korps Marinir AS dari Asia, dan mengurangi secara signifikan kekuatan udara dan angkatan laut Amerika di kawasan tersebut.
Defense Priorities mengatakan, perubahan tersebut dapat diterapkan secara bertahap selama tiga hingga delapan tahun, dengan sebagian besar selesai pada 2030 dan transisi diselesaikan pada 2035.
Argumen tersebut menyatakan, memusatkan kehadiran militer AS yang lebih kecil di wilayah timur akan terus melindungi akses Amerika ke pasar dan jalur perdagangan Asia tanpa harus mempertahankan pasukan besar di dekat China.
Rekomendasi ini merupakan rekomendasi dari Defense Priorities dan bukan merupakan perubahan kebijakan, yang diumumkan oleh pemerintah AS atau Pentagon. [***/GRW]











