
SORONG, satukanindonesia.com – Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Papua menyoroti, Penanganan kasus dugaan penembakan dan kekerasan terhadap tiga warga masyarakat sipil di kampung Ainod, distrik Aifat Timur Tengah, kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, pada tanggal 13 Agustus 2026 lalu.
Tiga warga Maybrat tersebut ,yakni Silvester Assem (25 tahun), Anike Fatie (47 tahun), dan Selfiana Sorry (66 tahun).
Dr. Filep Wamafma, Sekretaris Pansus Papua DPD RI mengatakan, masyarakat masih menunggu kepastian dari aparat kepolisian terkait siapa pelaku dugaan penembakan yang terjadi di wilayah tersebut.
“Yang paling inti, masyarakat masih menunggu kepastian dari Polda Papua Barat Daya dan Polres Maybrat dalam menentukan siapa pelaku penembakan,”katanya kepada wartatawan, Senin (14/09/2026).
Dikatakannya, dengan waktu yang telah cukup lama sejak peristiwa terjadi serta bukti-bukti yang tersedia, aparat dinilai sudah seharusnya mengungkap pelaku.
Ketua Komite III DPD RI itu menegaskan, siapa pun yang terbukti sebagai pelaku harus diproses sesuai hukum.
Pansus Papua DPD RI, kata dia, akan merekomendasikan langkah lebih lanjut apabila Kapolda PBD dan jajarannya belum segera memberikan kepastian.
“Kalau Kapolda Papua Barat Daya dan Polres Maybrat tidak cepat menentukan pelakunya, bukan tidak mungkin DPD RI akan memanggil Kapolda untuk memberikan penjelasan sesuai kebutuhan Pansus,”tegas Filep.
Tak hanya persoalan dugaan penembakan, Pansus juga menerima aspirasi masyarakat terkait kondisi keamanan di sejumlah wilayah Maybrat, khususnya Aifat. Kehadiran pos-pos militer di sejumlah kampung disebut membuat masyarakat merasa takut dan membatasi aktivitas mereka, termasuk berkebun.
Untuk itu, Pansus DPD RI akan mendorong, evaluasi terhadap pola penempatan pasukan di wilayah konflik agar keamanan tetap terjaga tanpa menghambat aktivitas masyarakat.
Filep juga menyebut persoalan investasi, konflik terkait kompensasi, ideologi, serta rendahnya kepercayaan terhadap institusi sebagai sejumlah akar persoalan konflik di Maybrat.
“Ini menjadi hal penting bagi Pansus Papua. Kami akan mengembangkan informasi dan data yang sudah diterima masyarakat untuk dilakukan pada tahapan berikutnya,”sebutnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga perlu memperhatikan pembangunan di wilayah konflik, terutama sekolah, fasilitas kesehatan, rumah masyarakat, dan akses air bersih.
Sebelumnya, tiga warga sipil di Maybrat di diduga ditembak oleh personel TNI yang bertugas di Pos Sory.
Berdasarkan laporan yang diterima LBH Kaki Abu bahwa para korban ketika itu berada di sekitar kebun Mama Anike Fatie, di kawasan Muara Aifam.
Setelah beraktivitas di pondok, Mama Anike Fatie pergi ke kali di sekitar kebunnya untuk mandi, dengan membawa tiga ekor anjing. Sekira pukul 17.20 WIT, terdengar suara tembakan. Anike Fatie mengira suara tersebut bunyi petasan.
Namun setelah melihat situasi di sekitar, ia kemudian menyadari itu adalah suara tembakan. Informasi awal yang diterima menyebut Mama Anike Fatie berupaya menyelamatkan diri setelah mendengar suara tembakan.
Tetapi, ia tertembak dari arah belakang dan mengalami luka tembak pada bagian bahu. Sedangkan, tiga anjing yang saat itu mengikuti Mama Anike Fatie ke kali juga dilaporkan tertembak.
Silvester Assem yang berada di sekitar pondok juga mendengar suara tembakan. Dalam keadaan panik, ia berusaha keluar menjauh dari pondok untuk menyelamatkan diri. Namun Silvester Assem dilaporkan, tertembakan pada bagian paha hingga tembus.
Korban lainnya, Selviana Sory yang berada di sekitar pondok juga dilaporkan terkena tembakan. Ia tertembak pada bagian betis hingga tembus. [***/GRW]













