Kediri, SARUKANINDONESIA.Com– Pergerakan penumpang di Bandara Dhoho Kediri selama periode Lebaran 2026 menunjukkan tren meningkat sejak awal masa angkutan. Total penumpang diproyeksikan mencapai 3.375 orang atau naik sekitar 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini menandai mulai menguatnya peran bandara ini dalam mobilitas masyarakat.
Lonjakan terjadi bertahap dari masa mudik hingga arus balik. Puncak mudik tercatat pada 18 Maret dengan 275 penumpang. Sementara pada fase balik, jumlah penumpang mencapai titik tertinggi pada 22 Maret atau H+1 Lebaran dengan total 332 penumpang, didominasi keberangkatan menuju kota asal.
General Manager Bandara Dhoho Kediri, Rahmat Yoni Saputra, menyebut peningkatan ini sebagai indikator tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan penerbangan di Kediri. Pihaknya memastikan operasional bandara tetap diperkuat selama masa angkutan Lebaran guna menjaga kelancaran layanan.
Bandara Dhoho Kediri merupakan infrastruktur yang tergolong baru. Pembangunannya dimulai pada April 2020 melalui kerja sama pemerintah dengan PT Gudang Garam Tbk dan mulai beroperasi komersial pada 5 April 2024. Pada tahap awal, layanan penerbangan dibuka oleh Citilink, kemudian bertambah dengan kehadiran Super Air Jet yang melayani rute Kediri–Jakarta.
Berbeda dengan Bandar Udara Internasional Juanda yang melayani penerbangan padat setiap hari, Bandara Dhoho Kediri masih berada pada fase awal dengan frekuensi penerbangan yang terbatas. Dalam kondisi normal, aktivitasnya cenderung lebih lengang, menyerupai pola operasional di bandara regional seperti Bandar Udara Banyuwangi di Kabupaten Banyuwangi serta Bandar Udara Notohadinegoro di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Di tengah peningkatan mobilitas tersebut, perhatian terhadap aspek keselamatan, pelayanan, dan hak penumpang turut mengemuka. Pemerhati sosial dan hukum Kediri, Arief Wijanarko, mengingatkan pentingnya menjaga standar keamanan dan perlindungan konsumen, terutama karena bandara masih relatif baru.
“Kehadiran Bandara Dhoho membawa kemudahan tersendiri. Tapi mengingat bandara baru dan lokasi kadang sepi, perjalanan tidak terlalu padat, maka keamanan penumpang harus dijaga. Juga perlindungan terhadap mereka sebagai konsumen, tentu saja sesuai Undang-Undang Perlindungan Konsumen,” ujar tokoh yang akrab disapa Ao.
Sorotan serupa juga disampaikan MPI, lembaga yang bergerak di bidang pelayanan publik dan keterbukaan informasi. Melalui Koordinator Kediri Raya, Guntur Cahyana, MPI menilai peningkatan jumlah penumpang harus diiringi penguatan kualitas layanan dan transparansi informasi.
“Sebagai salah satu bentuk layanan di bidang transportasi, pelayanan publik harus dijaga. Baik oleh pelaksana operasional Bandara Dhoho maupun pihak maskapai. Standar pelayanan harus dipenuhi dan dilaksanakan. Juga keterbukaan informasi publik perlu. Harus ada penguatan petugas dan mekanisme pengaduan masyarakat serta keterbukaan informasi,” ungkap Guntur.
Dengan tren pergerakan yang terus meningkat hingga akhir masa arus balik, Bandara Dhoho Kediri dinilai mulai memainkan peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat di wilayah selatan Jawa Timur, sekaligus menghadapi tantangan dalam menjaga standar pelayanan, keselamatan, dan perlindungan konsumen (Tim Liputan Lebaran Satukan Indonesia 2026 Biro Jatim) (Tim Liputan Biro Jatim Lebaran 2026)













