
Surabaya, satukanindonesia.com – Setiap kali Hari Guru Nasional tiba, ada bisikan halus dalam diri kita yang meminta agar kita berhenti sejenak. Tahun ini, tema “Guru Hebat, Negara Kuat” berkibar dengan kebanggaan. Namun justru tema yang terdengar megah itu memancing pertanyaan yang lebih dalam—pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, tetapi perlu kita jawab dengan jujur: benarkah guru kita sudah hebat? Atau sesungguhnya tema itu adalah kompas yang mengarahkan kita pada cita-cita yang belum sepenuhnya kita capai?
Ki Hajar Dewantara memberikan dasar yang tidak pernah lekang oleh waktu. Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Tiga prinsip yang menjadi akar moral seorang guru, tiga arah yang seharusnya menuntun setiap langkahnya. Namun hidup di era digital membuat prinsip-prinsip itu mengalami ujian baru. Bukan karena gurunya berubah, tetapi karena lanskap sosial yang ditempati profesi guru tidak lagi seperti dahulu.
Guru-guru muda hari ini hidup dalam dunia yang tampilannya serba cepat. Media sosial menjadi ruang yang setiap hari menuntut perhatian. Ada tekanan halus untuk menampilkan keberhasilan, kebahagiaan, atau sekadar eksistensi. Beberapa guru masuk dalam arus itu tanpa sepenuhnya sadar. Fleksing menjadi budaya baru, bukan hanya bagi publik figur, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin diakui. Guru tidak kebal terhadap godaan tampil. Apakah ini merusak keteladanan? Tidak sesederhana itu. Namun di sinilah pertanyaannya menjadi runcing: ketika dunia menuntut tampil, apakah tulodo masih bisa berdiri tegak tanpa kehilangan arah?
Sebaliknya, guru-guru senior menghadapi ketajaman tantangan dari sisi lain. Mereka bertahun-tahun dididik dalam kultur yang stabil, ketika etika murid relatif seragam dan teknologi bukan bagian dari ruang kelas. Kini mereka harus memahami istilah-istilah baru, mengikuti pembelajaran daring, dan menghadapi murid yang bahasa tubuhnya—bahkan cara hormatnya—tidak selalu sejalan dengan kebiasaan generasi terdahulu. Sebagian guru merasa gagap, sebagian lain bingung menghadapi dunia yang tampak bergerak lebih cepat daripada kesiapan mereka. Namun justru dari mereka kita belajar tentang ketekunan: langkah kecil demi langkah kecil, membuka aplikasi yang belum pernah dilihat, belajar fitur baru, mencoba menyimak dunia anak-anak. Ada kelembutan dalam usaha itu, sekaligus keteguhan yang sering kali tidak terlihat.
Namun di luar hiruk pikuk teknologi, terpampang wajah lain pendidikan Indonesia—wajah yang tidak tersorot kamera dan jarang masuk berita. Ada guru di pedalaman Papua yang mengajar di sekolah berdinding triplek. Ada guru di pedalaman Sulawesi yang berjalan kaki melewati perkebunan untuk sampai ke kelas. Ada guru di NTT yang mengajar meski listrik sering padam, dan guru honorer yang bertahan dengan gaji yang membuat kita terdiam. Mereka tidak tampil, mereka tidak mengeluh, tetapi justru merekalah yang menghidupkan tema “Guru Hebat, Negara Kuat” secara paling nyata. Kehebatan mereka bukan slogan; ia adalah napas panjang yang menjaga agar anak-anak tidak kehilangan masa depan.
Dalam konteks ini, bayangan tentang “Oemar Bakri” kembali hadir. Oemar Bakri—guru sederhana yang digambarkan Iwan Fals dengan begitu jujur—sering dijadikan simbol ketulusan yang seolah hilang dari guru zaman sekarang. Namun alih-alih membandingkan secara kaku, kita perlu melihat bahwa setiap zaman memiliki bebannya sendiri. Guru dulu mungkin sederhana, tetapi mereka hidup pada masa ketika dunia bergerak lebih perlahan. Guru sekarang dituntut untuk menjadi pendidik, konselor, bahkan kreator digital. Mereka harus paham algoritma, mampu membaca emosi murid, dan mengelola kelas yang lebih kompleks. Kehebatan hari ini tidak lagi berwujud kesederhanaan belaka; ia juga berwujud kemampuan bertahan dalam kompleksitas.
Karena itu, tema HGN tahun ini bukan sekadar pujian, melainkan ajakan yang runcing: bila kita ingin negara kuat, maka guru harus diberi ruang untuk menjadi hebat—bukan hanya diminta hebat. Di sinilah visi pendidikan Presiden Prabowo menemukan tempatnya. Pemerintah menyadari bahwa pendidikan kokoh hanya bila guru kokoh. Oleh sebab itu peningkatan kompetensi, pelatihan berkelanjutan, dan literasi digital menjadi langkah awal. Namun satu hal yang penting dan tidak boleh dilupakan adalah kesejahteraan guru. Kehebatan tidak tumbuh dalam kegelisahan ekonomi. Guru hanya bisa menjadi teladan bila mereka sendiri hidup dalam kondisi yang memungkinkan mereka berpikir jernih, mengajar dengan damai, dan merawat murid dengan hati yang lapang.
Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar urusan logistik; ia adalah jembatan yang memastikan murid datang ke sekolah dengan tubuh yang siap belajar. Sekolah Rakyat menghidupkan kembali pendidikan berbasis kebutuhan lokal. Beasiswa pendidikan membuka peluang agar mimpi anak-anak dari keluarga sederhana tidak terhenti sebelum berkembang. Semua program ini membentuk ekosistem besar agar guru tidak berjuang sendiri. Kehebatan adalah hasil kerja bersama, bukan beban yang dipikul satu profesi belaka.
Maka, jika kita kembali pada pertanyaan awal—apakah guru kita sudah hebat?—jawabannya berada di antara harapan dan kenyataan. Ada guru yang hebat dengan caranya sendiri. Ada yang sedang bertumbuh. Ada yang masih mencari pijakan. Dan ada yang dalam diam sudah lama menjadi pilar bangsa tanpa pernah mengucapkan bahwa mereka hebat.
Hari Guru Nasional seharusnya tidak hanya menjadi ruang merayakan, tetapi juga ruang memperbaiki. Kita belajar menghargai upaya guru muda yang melawan godaan zaman agar tetap jernih, menghargai guru senior yang tidak menyerah meski teknologi terasa melelahkan, dan memuliakan guru pedalaman yang menjaga agar anak-anak bangsa tetap menemukan harapan.
Jika guru dengan seluruh keberagaman cara mengabdi tetap datang ke kelas dengan hati yang utuh, maka tema “Guru Hebat, Negara Kuat” bukan sekadar slogan. Ia adalah kenyataan yang sedang tumbuh, perlahan namun pasti, di tangan mereka yang diam-diam menjaga masa depan Indonesia.
Oleh: Immanuel Yosua T.
Penulis adalah dosen Prodi PAK STTIAA dan Pemerhati Pelayanan Publik Pendidikan













