• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Jenderal Top Afghanistan Salahkan Trump, Biden dan Ghani, “Kami Dikhianati”

Jenderal Top Afghanistan Salahkan Trump, Biden dan Ghani, “Kami Dikhianati”

Agustus 26, 2021
MSG desak Indonesia Ijinkan Komisaris Tinggi PBB kunjungi Papua

MSG desak Indonesia Ijinkan Komisaris Tinggi PBB kunjungi Papua

September 5, 2026
Ibunda Wamenkes dr. Benny Octavianus Berpulang

Ibunda Wamenkes dr. Benny Octavianus Berpulang

September 5, 2026
ADVERTISEMENT
Komisi IX DPR Sebut Perlindungan Ketenagakerjaan Atur Perluasan Jamsos

Komisi IX DPR Sebut Perlindungan Ketenagakerjaan Atur Perluasan Jamsos

September 5, 2026
‎IWO Batam Kecam Dugaan Pemukulan Sekretaris IWO, Desak Polisi Usut Salman dan Audit Keterlibatan Oknum BP

‎IWO Batam Kecam Dugaan Pemukulan Sekretaris IWO, Desak Polisi Usut Salman dan Audit Keterlibatan Oknum BP

September 5, 2026
Cegah Pasal Tidak Sinkron, Hanura Minta DPR Putuskan RUU Pemilu Lebih Awal

Cegah Pasal Tidak Sinkron, Hanura Minta DPR Putuskan RUU Pemilu Lebih Awal

September 5, 2026
Polisi Tetapkan 112 Tersangka Kasus Karhutla hingga September 2026

Polisi Tetapkan 112 Tersangka Kasus Karhutla hingga September 2026

September 5, 2026
Masyarakat Adat Papua Tolak PSN dalam Pelaksanaan PAPEDA Summit 2026

Masyarakat Adat Papua Tolak PSN dalam Pelaksanaan PAPEDA Summit 2026

September 5, 2026
Pertegas Manfaat Ekonomi hingga 2055, Pemerintah Pusat Didesak Audit Proyek LNG Tangguh

Pertegas Manfaat Ekonomi hingga 2055, Pemerintah Pusat Didesak Audit Proyek LNG Tangguh

September 5, 2026
Wali Kota Bekasi Kukuhkan FKUB 2026-2031, Dorong Aksi Nyata Toleransi hingga Tingkat Wilayah

Wali Kota Bekasi Kukuhkan FKUB 2026-2031, Dorong Aksi Nyata Toleransi hingga Tingkat Wilayah

September 4, 2026
Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Responsif dan Inklusif

Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Responsif dan Inklusif

September 4, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Sabtu, September 5, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Internasional

Jenderal Top Afghanistan Salahkan Trump, Biden dan Ghani, “Kami Dikhianati”

[Internasional]

Agustus 26, 2021
in Internasional
0
0
SHARES
286
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
Sami Sadat, Jenderal Afghanistan. (Foto: Khaama Press)
Sami Sadat, Jenderal Afghanistan. (Foto: Khaama Press)

SatukanIndonesia.com – Mantan jenderal top Afghanistan menyalahkan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Presiden Joe Biden, dan mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani atas keberhasilan Taliban kembali berkuasa. Menurutnya, ketiga orang tersebut telah mengkhianati Afghanistan dan menghancurkan negara itu.

“Kami dikhianati oleh politik dan presiden,” kata Sami Sadat, seorang jenderal bintang tiga yang pernah memimpin pasukan khusus Afghanistan dalam sebuah opini di The New York Times.

“Ini bukan hanya perang Afghanistan; ini adalah perang internasional, dengan banyak militer yang terlibat. Mustahil bagi satu tentara saja, milik kita, untuk mengambil pekerjaan itu dan berperang.

Ini adalah kekalahan militer, tetapi itu berasal dari kegagalan politik,” sambungnya seperti dikutip dari Independent, Kamis (26/8/2021). Baca juga: Eks Pasukan Khusus AS Ajari Presiden Atasi Krisis Afghanistan
Menurut sang jenderal, jatuhnya Afghanistan dimulai jauh sebelum Taliban menyerbu Kabul dalam beberapa pekan terakhir. Pertama, tulisnya, ada perjanjian damai pemerintahan Trump pada Februari 2020 dengan Taliban, yang “menghancurkan” negara itu karena menetapkan persyaratan untuk penarikan pasukan Amerika tanpa pembagian kekuasaan yang konkret antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.

Menurut Sadat, memberi “tanggal kedaluwarsa” pada kehadiran AS di negara itu memungkinkan Taliban menunggu dan merebut kembali negara itu begitu mereka pergi.

Selanjutnya, sang jenderal berpendapat, pemerintahan Biden terus melanjutkan rencana umum pemerintahan Trump, menarik kembali jumlah pasukan serta ribuan kontraktor militer yang penting untuk mempertahankan pasokan bagi pasukan dan teknologi seperti helikopter serta drone yang memberi keuntungan bagi tentara Afghanistan atas Taliban.

“Saya sedih melihat Biden dan pejabat Barat menyalahkan Angkatan Darat Afghanistan karena keruntuh pemerintahan tanpa menyebutkan alasan mendasar yang terjadi,” tambah jenderal itu dalam artikelnya.

“Perpecahan politik di Kabul dan Washington mencekik tentara dan membatasi kemampuan kami untuk melakukan pekerjaan kami,” jelasnya. Baca juga: 10 Peralatan Militer AS Termahal yang Direbut Taliban secara Gratis

Presiden Joe Biden telah membenarkan keputusannya untuk menarik pasukan Amerika dengan alasan AS tidak dapat berjuang untuk mencapai Afghanistan yang stabil.

“Pasukan Amerika tidak bisa dan tidak seharusnya berperang dalam perang dan mati dalam perang yang pasukan Afghanistan sendiri tidak mau berjuang untuk diri mereka sendiri,” katanya dalam pidatonya pekan lalu.

Tentara Afghanistan telah sangat menderita selama perang di Afghanistan, dengan sekitar seperlima dari total kekuatan tempurnya, 66.000 orang, tewas selama 20 tahun terakhir. Itu akan setara dengan 260.000 tentara Amerika yang sekarat, mengingat ukuran relatif dari dua kekuatan militer.

Terakhir, mantan komandan tertinggi Afghanistan itu menyalahkan mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan pemerintahnya atas budaya korupsi. “Itu benar-benar tragedi nasional kita,” katanya.

Ghani melarikan diri dari negara itu ketika Taliban mendekati Kabul dan membela diri atas keputusannya dengan mengatakan itu diperlukan untuk menjaga perdamaian. Baca juga: Arab Saudi Cabut Larangan Masuk bagi Indonesia dan 19 Negara Lainnya
“Jika saya tetap tinggal, banyak orang sebangsa saya akan menjadi martir dan Kabul akan menghadapi kehancuran,” tulisnya di media sosial. Dia sekarang tinggal di Uni Emirat Arab (UEA) dengan alasan kemanusiaan.

(nal/SI)

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: AfghanistanAmerika SerikatDonald TrumpJoe Bidenmiddle east conflicsami sadatTaliban
ShareTweetSend

Related Posts

RI-AS Perkuat Kerja Sama Pelestarian Warisan Budaya dan Pengelolaan Museum

RI-AS Perkuat Kerja Sama Pelestarian Warisan Budaya dan Pengelolaan Museum

Juni 17, 2026
Menkeu Purbaya Temui Investor Global Jamin Kondisi Fiskal Nasional

Menkeu Purbaya Temui Investor Global Jamin Kondisi Fiskal Nasional

April 15, 2026
Dubes Iran Sebut AS Terima 10 Syarat Negosiasi Gencatan Senjata

Dubes Iran Sebut AS Terima 10 Syarat Negosiasi Gencatan Senjata

April 13, 2026

Lawan Rezim Boneka Prabowo Subianto, Front Mahasiswa Serukan Rakyat Bersatu

Maret 8, 2026

SMSI Tunggu Rapimnas untuk Tentukan Sikap atas Perjanjian Dagang RI–AS

Februari 26, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?