
SURABAYA, SATUKANINDONESIA.Com – Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jawa Timur, Deni Wicaksono mengajak semua elemen nasionalis untuk Kembali pada spirit Marhaenisme yang otentik. Hal ini disampaikan Deni dalam wawancara dengan satukanindonesia (senin, 24/3) terkait dengan Dies Natalis GMNI Ke-71 yang jatuh pada tanggal 23 Maret kemarin.Senin (24/3).
“Dies Natalis ke-71 GMNI adalah momentum untuk kembali merefleksikan jati diri organisasi dan konsistensinya dalam memperjuangkan ideologi Marhaenisme. Kita harus jujur melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semangat ideologis itu mulai kabur di tengah dinamika politik dan pragmatisme yang berkembang,” ujar Deni Wicaksono yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim saat ini.
Menurut Deni yang juga salah satu Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur , selama ini GMNI yang merupakan salah satu organiasasi kemahasiswaan tertua di Indonesia telah menjadi ruang kaderisasi ideologis yang melahirkan banyak tokoh nasional. Momentum ulang tahun ke-71 ini pun dinilai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi gerakan dan penguatan ideologis dalam menghadapi tantangan zaman.
Baginya, GMNI tidak boleh kehilangan arah sebagai gerakan ideologis yang mengakar pada rakyat kecil. Ia mengajak seluruh kader dan alumni untuk kembali menghidupkan diskursus-diskursus ideologis serta memperkuat militansi kader di tengah arus besar kapitalisme global.
“Marhaenisme bukan sekadar jargon, tetapi fondasi gerakan. GMNI lahir bukan untuk menjadi organisasi biasa, melainkan sebagai garda terdepan penjaga ajaran Bung Karno. Maka dari itu, seluruh kader harus sadar bahwa perjuangan ini adalah perjuangan panjang, bukan sekadar perebutan jabatan atau eksistensi politik sesaat,” tambah Deni yang juga anggota DPRD Jawa Timur 2 Periode ini.
Pada bagian lain Ia juga menyebut pentingnya regenerasi kepemimpinan yang ideologis dan berintegritas di tubuh GMNI. Menurutnya, kader-kader muda harus dibekali dengan pemahaman yang kuat tentang sejarah, ideologi, dan tantangan kebangsaan masa kini.
“Jika kita ingin GMNI tetap relevan, maka penguatan ideologis harus menjadi prioritas. Tidak boleh ada kompromi terhadap nilai-nilai perjuangan. Kader harus cerdas secara intelektual, militan secara gerakan, dan bersih secara moral,” tegasnya.
Dengan usia yang tak lagi muda, Deni berharap GMNI dapat terus menjadi rumah perjuangan bagi mahasiswa nasionalis dan menjadi motor perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Peringatan Dies Natalis ke-71 ini menjadi alarm penting untuk menjaga kemurnian visi dan misi organisasi dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” tandas pria yang pernah menjadi Ketua Komisi Pelayanan Publik (KPP) Jawa Timur Periode 2012-2016 ini.(Yos)













