
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Terkait pro-kontra Perayaan Paskah 2018 yang diselenggarakan di Monas, Minggu (01/04/2018), Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perhimpunan Pemuda Gereja Indonesia (DPP PPGI) Maruli Tua Silaban angkat bicara mengenai penggunaan Lapangan Monas sebagai lokasi untuk kegiatan keagamaan karena sangat rentan di politisasi atau ditunggangi kepentingan politik tertentu.
Gagasan untuk tidak menjadikan Monas sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan didasarkan pada pengalaman buruk di ibukota ketika Monas dijadikan sebagai lokasi kegiatan keagamaan yang berujung pada mendiskreditkan kelompok tertentu sehingga hakikat tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut tidak tercapai, sebut saja kegiatan Ibadah untuk memperjuangkan keabsahan Gereja HKBP Ciketing Bekasi, GKI Yasmin di Bogor dan yang paling ekstrim jumlah pesertanya adalah kegiatan keagamaan yang dikemas dalam bentuk shalat subuh di Lapangan Monas pada tahun 2017.
Maruli juga mengingatkan apa yang terjadi pada pilkada DKI Tahun 2017 silam, kegiatan shalat berjamaah dengan menghadirkan jamaah yang tak terhitung jumlahnya untuk membanjiri monas menjadi lautan manusia ternyata dibungkus dengan kepentingan politik untuk melawan dan menjatuhkan Calon Gubernur Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) kala itu.
“Kegiatan yang dikemas dengan acara keagamaan dari kelompok tertentu yang mengatasnamakan umat Muslim pada saat itu, dengan menghadirkan massa membanjiri Monas sekitarnya dengan lautan manusia, sesungguhnya merupakan gerakan politik untuk melawan dan menjatuhkan citra pasangan calon Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), hal ini membuat kita trauma” ujar Maruli kepada SatukanIndonesia.com, Selasa (03/04/2018).
Maruli juga menegaskan bahwa perlu belajar dari pengalaman kelam sebelumnya ketika suatu kegiatan keagamaan dilaksanakan di ruang publik malah ditunggangi kepentingan politik tertentu yang dapat memberi ekses buruk bagi keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
“Belajar dari pengalaman kelam dalam relasi sosial akibat buruknya peradaban kehidupan dibangsa ini dari kelompok-kelompok tertentu yang sengaja mencoreng keharmonisan hidup berbangsa di negeri ini karena mempolitisasi agama, kita mengambil kesimpulan untuk mengakhiri kegiatan ibadah di tempat terbuka seperti di Monas”, pungkas Maruli Tua Silaban yang juga seorang Advokat itu. (Aj/SatukanIndonesia,com)














