
JAYAPURA, SATUKANINDONESIA.Com – Dr. Budi Hermawan, Dosen Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat atau STF Driyarkara Jakarta menyebutkan, Orang Asli Papua (OAP) harus memproduksi pengetahuannya sendiri tentang apa yang dirasakan dan dialami di Tanah Papua. Pasalnya, orang Papualah yang mengetahui tentang Papua.
”Yang saya mau garis bawahi di sini dari buku ini adalah teman-teman Papua teruslah memproduksi pengetahuan tentang Papua oleh Papua,”kata Dr. Budi Hernawan seperti yang dalam diskusi buku seri Memoria Passionis No 42 berjudul ‘Papua : Antara Berkat dan Kutuk’ di kanal YouTube, Selasa (16/07/2024).
Budi Hernawan menjelaskan, menjadi poin yang paling penting dan perlu dirawat adalah produksi pengetahuan Papua. Karena semakin hari orang Papua juga tidak memproduksi lebih banyak dibandingkan pada tahun 1999–2003. Waktu itu, banyak lembaga seperti Elsham Papua yang aktif memproduksi pengetahuan Papua saat itu.
“Karena dari berbagai lembaga penelitian di Jakarta, Washington DC dan Cambridge juga memproduksi pengetahuan tentang Papua yang bersaing dengan teman-teman di Papua, produksi pengetahuan oleh orang Papua. Sekarang ada teman-teman media di tanah Papua yang mampu produksi pengetahuan Papua,”katanya.
Untuk itu, dia mengingatkan, untuk terus merawat daya kritis dan ingatan subversif, sebagaimana dalam buku ini ada rekomendasi yang berkaitan dengan pengetahuan Papua.
“Keberanian untuk bersaing memberikan wacana alternatif bagi publik nasional oleh teman-teman Papua. Karena di setiap departemen, kedutaan, mereka punya tim-tim yang sangat ahli, yang memonitor perkembangan Papua dengan teliti juga, dan bagaimana kemudian juga bersaing dengan tim peneliti ini,”ujarnya.
Sementara Direktur Sekretariat Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan atau SKPKC Fransiskan Papua, RP Alexandro Farini Rangga OFM mengatakan, jangan hanya mengingatkan akan penderitaan (Memoria Passionis), tapi juga ingatan akan kebangkitan di Papua.
“Jadi, karena ini Memoria Passionis, ingatan akan penderitaan, makanya judulnya kayak seram-seram. Misalnya tahun lalu itu judulnya ‘Terpasung Di Rumah Sendiri’, dan tahun ini ‘Papua: Antara Berkat dan Kutuk’. Banyak orang yang protes, ‘kamu buat judul ini bikin orang takut saja’, tapi saya bilang memang Papua itu begitu, begitu sudah, ngeri-ngeri sedap,”kata Alexandro Rangga.
Pater Alexandro mengatakan, sebenarnya alasan pemilihan judul buku seringkali didasarkan pada analisis-analisis, yang dibuat oleh para penulis. Dan kebetulan seri tahun 2023 ini mereka memilih judul dari salah satu judul tulisan berkaitan dengan hutan Papua “antara berkat dan kutuk“– yang bertolak dari pengalaman penulis sendiri sebagai orang asli Papua dari suku Ngalum di Oksibil, Pegunungan Bintang.
“Kami menilai bahwa refleksi dari salah satu penulis itu mewakili perjalanan di Papua selama tahun 2023. Karena itu judul ini dipilih Papua: Antara Kutuk dan Berkat,” ujar lulusan master dari Universitas Lateran Roma, Italia ini. [GRW]













