
Surabaya, SatukanIndonesia.com – Ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menjadi sorotan dunia. Konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah tersebut dinilai bukan hanya persoalan militer semata, melainkan juga membawa implikasi besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia. Demikian kesimpulan pakar ekonomi internasional, Prof. Dr Murpin Josua Sembiring S. E., M.M
Bagi Ketua Persatuan Guru Besar Indonesia (PERGUBI) ini menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi memicu gejolak ekonomi dunia, terutama melalui kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Rivalitas antara Iran dan Israel sebenarnya telah berlangsung lama sejak Revolusi Islam Iran pada 1979 yang mengubah peta politik Timur Tengah dan memutus hubungan diplomatik kedua negara. Ketegangan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik strategis yang melibatkan berbagai kekuatan global, termasuk Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, eskalasi konflik semakin meningkat melalui berbagai serangan militer langsung maupun tidak langsung yang saling dibalas antara kedua pihak. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran global karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi energi dunia sekaligus jalur distribusi minyak strategis.
“Ketegangan geopolitik global berpotensi mendorong kenaikan harga minyak yang berdampak pada pelemahan rupiah, inflasi, serta meningkatnya biaya impor dan suku bunga,” ungkapnya Kamis (12/3).
Pada bagian lain salah satu alumni Lemhannas ini juga menjelaskan bahwa lonjakan harga energi akan memberi tekanan pada banyak negara, terutama negara berkembang yang masih memiliki ketergantungan pada impor energi.
Dalam situasi seperti itu, volatilitas pasar global biasanya diikuti dengan penguatan dolar Amerika Serikat dan pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, dampak tersebut dapat terasa melalui meningkatnya biaya impor energi, tekanan terhadap inflasi domestik, serta potensi penyesuaian kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Namun demikian, Prof. Murpin yang juga Ketua Program Doktoral Manajemen Entrepreneurship Universitas Ciputra Surabaya ini mengingatkan bahwa krisis global tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman semata. Dalam perspektif ekonomi strategis, situasi penuh ketidakpastian justru dapat menjadi momentum bagi dunia usaha untuk melakukan reposisi strategi bisnis.
“Respons yang dibutuhkan bukan hanya sekadar reaktif, melainkan harus strategis dan berbasis data,” ungkapnya
Pada bagian lain ia juga menyatakan bahwa pelaku usaha perlu membaca perubahan geopolitik sebagai bagian dari dinamika global yang memerlukan adaptasi cepat, inovasi, serta penguatan jaringan kolaborasi.
Dalam konteks tersebut, networking atau jejaring profesional memiliki peran penting sebagai social capital yang memiliki nilai ekonomi.
Jejaring yang kuat, menurut Prof. Murpin, dapat mempercepat akses terhadap informasi, membuka peluang usaha baru, sekaligus mendorong inovasi kolaboratif di tengah ketidakpastian global.
Ia juga menilai bahwa kemampuan membaca perubahan geopolitik dan memanfaatkan jejaring kolaboratif akan menjadi salah satu faktor kunci bagi dunia usaha untuk bertahan dan berkembang di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
“Dalam situasi krisis global, jejaring kolaboratif dapat mempercepat akses peluang dan inovasi. Di situlah peluang strategis bagi pelaku usaha untuk beradaptasi dan tumbuh,” pungkas pria yang pw re nah menjadi Rektor Universitas Widya Kartika Surabaya dan Universitas Ma Chung Malang tersebut_(Yos)_













