
JAYAPURA, satukanindonesia.com – Dewan Adat Papua (DAP) meminta, Universitas Cenderawasih (Uncen) menjadi lembaga utama yang memimpin upaya pemulangan (repatriasi) benda-benda budaya Papua, yang hingga kini masih tersebar di berbagai museum dan lembaga di luar negeri.
Pasalnya, Uncen sebagai institusi yang tepat untuk menjaga, meneliti, sekaligus merawat warisan budaya masyarakat adat Papua lintas generasi.
Hal disampaikan Ketua Dewan Adat Papua (DAP), Dominikus Surabut saat prosesi penerimaan lebih dari 1.200 koleksi budaya Papua hasil repatriasi dari Amerika Serikat (AS), di museum loka budaya Uncen, Abepura, kota Jayapura, Papua, pada tanggal 06 Agustus 2026.

Ia mengungkapkan, proses pemulangan ribuan koleksi budaya tersebut tak berjalan mudah. Berbagai kendala administrasi hingga persoalan pengiriman sempat menghambat kepulangan artefak ke Tanah Papua.
“Kami memang pikir barang ini akan datang dengan aman. Tetapi kami menghadapi ancaman. Surat kargo sudah selesai dua kali, tetapi dua kali juga dibatalkan. Barang ini tidak boleh ada di sini, tetapi akhirnya bisa kembali ke Papua,”katanya.
Meski menghadapi berbagai hambatan, ia menilai, keberhasilan repatriasi tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mengembalikan identitas, sejarah, dan warisan budaya masyarakat adat Papua.
Untuk itu, Dominikus Surabut mengajak, masyarakat adat Papua agar tetap menjaga persatuan di tengah dinamika pembentukan daerah otonom baru maupun perubahan struktur pemerintahan.
Menurutnya, masyarakat adat Papua tak boleh terpecah oleh batas-batas administratif karena identitas adat dibangun berdasarkan sejarah, leluhur, dan wilayah adat, bukan berdasarkan kepentingan politik.
“Silakan provinsi mau berapa, kabupaten mau berapa, universitas mau berapa, tetapi masyarakat adat Papua tetap satu. Jangan sampai struktur masyarakat adat dibangun berdasarkan garis politik, melainkan berdasarkan sejarah leluhur dan wilayah adat,”tegasnya.
Dikatakannya, museum Budaya Uncen harus menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat adat Papua, sekaligus pusat penyimpanan warisan budaya dari tujuh wilayah adat di Tanah Papua.
“Barang-barang budaya kita harus disimpan di sini. Ini rumah persatuan masyarakat adat Papua dan menjadi simbol kebersamaan kita,”tegasnya.
Katanya, Dewan Adat Papua tengah menyiapkan mandat khusus kepada Uncen untuk melanjutkan program repatriasi benda-benda budaya Papua yang masih tersimpan di berbagai negara.
Menurutnya, mandat tersebut akan menempatkan Uncen sebagai institusi akademik yang memimpin pendataan, komunikasi, penelitian, hingga proses pemulangan koleksi budaya Papua dari luar negeri.
“Kami sedang menyiapkan mandat kepada Uncen. Tugas pertamanya adalah melakukan kerja-kerja repatriasi benda-benda budaya Papua yang masih ada di Belanda, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan negara lainnya,”ujar Dominikus.
Untuk itu, ia juga meminta pemerintah memberikan dukungan anggaran bagi Uncen agar proses repatriasi dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Karena, kata dia, pergantian pimpinan di lingkungan kampus tak akan mengurangi komitmen institusi dalam menjaga warisan budaya, karena pengetahuan dan tanggung jawab akademik akan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pemerintah harus membiayai Uncen untuk membawa pulang benda-benda budaya ini dari luar negeri. Di universitas, rektor bisa berganti, dekan bisa berganti, tetapi ilmu pengetahuan dan mata kuliah tetap ada. Karena itu Uncen harus menjadi pusat pelestarian warisan budaya Papua,”katanya. [**/GRW]













