
Yogyakarta istimewa.
Karena Jawa.
Indonesia juga istimewa.
Karena Kepri.
Tapi banyak orang tidak kenal Kepri.
Kenapa?
Karena memang baru.
Provinsi ini baru lahir tahun 2002.
Dulu ia bagian dari Riau.
Pusat pemerintahannya di Pekanbaru.
Pulau-pulau jauh terasa pinggiran.
Maka orang lebih hafal Riau daripada Kepri.
Lebih ingat Pekanbaru daripada Tanjungpinang.
Lebih kenal Batam sebagai free trade zone daripada Penyengat sebagai pusat bahasa dan sastra.
Padahal, akar bahasa Indonesia lahir dari Kepri.
Bahasa yang kita pakai setiap hari.
Dari DPR sampai warung kopi.
Bahasa dari Penyengat
Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu.
Melayu Riau-Johor.
Yang dibakukan di Penyengat.
Oleh Raja Ali Haji.
Ia menulis kamus.
Ia menulis sejarah.
Ia menulis Gurindam Dua Belas.
Bahasanya sederhana.
Tapi kuat.
Dan akhirnya jadi bahasa persatuan.
Kitab Moral Melayu
Gurindam Dua Belas.
Ditulis tahun 1847.
Isinya? Dua belas pasal.
Tentang iman. Tentang adab. Tentang pemimpin.
Dua baris berima. Seperti pantun. Tapi tanpa sampiran.
Sederhana.
Tapi dalam.
Itulah wajah Melayu.
Lembut tapi kuat.
Santun tapi berwibawa.
Bahasa Perdagangan Dunia
Melayu bukan hanya bahasa budaya.
Tapi juga bahasa dagang.
Sejak Sriwijaya.
Sejak Malaka.
Pedagang Arab, India, Cina, Portugis.
Semua pakai Melayu di pelabuhan.
Kenapa?
Karena mudah dipelajari.
Karena inklusif.
Dari Aceh sampai Maluku, orang bisa saling bicara.
Satu bahasa.
Bahasa Melayu.
Itulah sebabnya saat Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia dipilih.
Karena memang sudah jadi bahasa bersama.
Kerajaan yang Dimakzulkan
Kesultanan Riau-Lingga berdiri tahun 1824.
Sultan Abdul Rahman II dimakzulkan Belanda tahun 1911.
Istana dibakar.
Dokumen dimusnahkan.
Kenapa?
Karena sultan simbol kedaulatan.
Karena Penyengat pusat perlawanan intelektual.
Karena Melayu harus diputus jadi dua: Johor untuk Inggris, Riau-Lingga untuk Belanda.
Tapi jejak itu tidak hilang.
Ia tetap hidup.
Di gurindam.
Di hikayat.
Di marwah Melayu.
Keistimewaan yang Terlupakan
Padahal faktanya jelas:
Bahasa Indonesia lahir dari Melayu Kepri.
Kesultanan Melayu terakhir ada di Kepri.
Pulau Penyengat adalah Bunda Tanah Melayu.
Gurindam Dua Belas adalah kitab moral bangsa.
Dan bahasa Melayu pernah jadi bahasa perdagangan dunia.
Kalau Yogya dihormati karena Jawa, kenapa Kepri tidak dihormati karena Melayunya?
Bhinneka Tunggal Ika dan Kepri
Semboyan bangsa ini: Bhinneka Tunggal Ika.
Berbeda-beda tapi tetap satu.
Bahasa adalah perekatnya.
Dan bahasa itu lahir dari Kepri.
Bahasa Melayu sederhana.
Tapi lentur.
Mampu menyatukan Minang, Batak, Jawa, Bugis, Dayak, Papua.
Budaya Melayu pun inklusif.
Maritim.
Kosmopolitan.
Menerima pengaruh Arab, India, Cina, Eropa.
Tapi tetap menjaga marwahnya.
Inilah wajah sejati Bhinneka Tunggal Ika.
Terbuka pada perbedaan.
Kokoh dalam jati diri.
Menatap Indonesia dari Kepri
Kepri bukan provinsi muda.
Ia warisan tua.
Yang sempat ditenggelamkan kolonial.
Kini saatnya naik ke permukaan.
Kalau Yogya punya Jawa.
Indonesia punya Kepri.
Bukan soal besar atau kecil.
Tapi soal berani menunjukkan diri:
inilah aku, Kepri — akar bahasa, budaya, marwah, dan persatuan Indonesia.
Oleh: Monica Nathan













