
Timika, SatukanIndonesia. Com – Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Papua Willem Frans Ansanay menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam dan menyerukan Perdamaian untuk mengakhiri konflik sosial politik yang terjadi di Wamena pada hari Kamis, 23/2/2023 lalu yang menelan korban jiwa.
Untuk mewujudkan perdamaian yang seutuhnya di Bumi Papua, menurut Willem Frans Ansanay yang biasa dipanggil WFA, Doa bersama untuk mewujudkan rekonsiliasi yang didasarkan pada Kasih sesama dengan melibatkan rohaniawan/tokoh agama dan tokoh adat atau kepala suku difasilitasi oleh pemerintah.
“Salah satu cara dan langkah yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan konflik di tanah Papua khususnya di Papua Pegunungan, perlu dilakukan doa bersama guna melakukan rekonsiliasi di pimpinan rohaniawan / tokoh agama dan melibatkan tokoh masyarakat/tokoh adat termasuk para kepala suku yang difasilitasi oleh Pemerintah”, kata WFA bersama dengan Paskalis Kosai saat berdiskusi terbatas dengan Media ini, di Hotel Horison Ultima, Timika, Sabtu, 25/2/2023.
Selain itu, WFA yang ada di Timika guna menghadiri Rapat Koordinasi Partai Golkar se Tanah Papua menuturkan, selain melakukan Doa bersama untuk Rekonsiliasi, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan pendekatan yang humanis.
Diantaranya kata WFA, semua pihak mendukung penegakan hukum yang humanis yang dilakukan Aparat Kepolisian guna mengidentifikasi motif yang sesungguhnya dibalik provokasi yang menimbulkan terjadinya kerusuhan hingga mengakibatkan adanya korban jiwa.
“Untuk mengetahui motif yang sesungguhnya dibalik provokasi dan terjadinya huru – hara yang begitu hebat dan sporadis, anarkistis yang mengganggu stabilitas dan keamanan di Wamena yang mengakibatkan terjadinya pembakaran rumah-rumah atau ruko warga dan pembunuhan warga oleh sesama warga, perlu dilakukan penyelidikan dan penyidikan untuk mengantisipasi kejadian yang sama dimasa yang akan datang”, ujar WFA.
Lebih lanjut putra Orang Asli Papua ini, Pemerintah bersama TNI dan Polri perlu ada kewaspadaan dan untuk mengidentifikasi, mengamati dan mencermati situasi yang berkembang di masyarakat guna mengantisipasi berbagai macam konflik politik yang selama ini menjadi modus pemicu konflik itu sendiri.
“Apapun modus dibalik kerusuhan yang terjadi belakangan ini di tanah Papua, perlu kewaspadaan dini dari pemerintah setempat dan pemerintah pusat bersama alat-alat negara seperti TNI/Polri untuk mengidentifikasi dan mencermati situasi yang berkembang di masyarakat guna mengantisipasi kejadian yang sama dikemudian hari”, ujarnya.
Sementata dipihak Masyarakat Nusantara yang ada di bumi Papua, WFA juga menyarankan perlu kewaspadaan lintas etnis guna bisa melindungi dirinya sendiri sejak dini.
Terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya, WFA secara khusus berperan seraya menyampaikan rasa keprihatinannya yang kurang peka dan kurang partisipatif untuk mendeteksi situasi yang ada dimasyarakat.
“Muspida setempat semestinya peka dan resposnsiif terhadap situasi sosial politik khususnya di daerah permukiman terjadinya konflik terakhir ini yang berada disekitar rumah tinggal Pejabat Kabupaten Jayawijaya yang tidak mampu mengangantisipasi konflik dan tidak ada upaya signifikan dari pemerintah setempat, sangat naif jika disekitar kejadian tidak ada CCTV untuk mendapatkan data untuk penyelidikan/kepentingan hukum”, ungkap WFA dengan kesal yang diamini Paskalis Kosay yang sama-sama Kader Golkar dan OAP di tanah Papua tersebut.
Terkait dengan Daerah Otonomi Baru (DOB) yang ada di wilayah tanah Papua, lebih lanjut WFA yang merupakan Kader Potensial Partai Golkar itu mengatakan, telah terbuka luas peluang dan kesempatan bagi putra asli orang Papua (OAP) untuk mengisi posisi jabatan strategis di lingkungan birokrasi Eksekutif dan legislatif guna mewujudkan kesejahteraan OAP yang selama ini diperjuangkan oleh aktifis politik OAP di tanah bumi Papua.
“Di era otonomi khusus (Otsus) setelah terbentuk DOB ini, telah terbuka ruang-ruang politik yang dibutuhkan masyarakat menjelang pemilu guna mengakhiri kecemburuan dari OAP selama ini yang pada akhirnya dengan kehadiran aktifis politik OAP masuk di legislatif dan eksekutif melalui Pemilu yang akan segera dilaksanakan akan mensejahterakan OAP”, ungkapnya dengan optimis.
Di akhir percakapan Media ini dengan WFA dan Paskalis Koasai, kedua tokoh OAP tersebut mengajak pihak-pihak yang selama ini menciptakan konflik di tanah Papua supaya bersama-sama bergandengan tangan melakukan rekonsiliasi dengan semangat persaudaraan sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tetap menjalin persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. (Redaksi).













