
KUPANG, SatukanIndonesia.Com – Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Prof. Dr (HC). Drs. Nurdin Halid menyatakan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi role model pelaksanaan Visi 2045 Koperasi Pilar Negara Sektor Keuangan. Nurdin Halid bahkan diterima sebagai anggota Koperasi Kredit (Kopdit) Swasti Sari yang berkantor pusat di Kota Kupang.
Pernyataan itu diungkapkan Nurdin Halid saat menghadiri Perayaan Hari Koperasi ke-76 Tingkat Propinsi NTT yang berlangsung 27 – 29 Juli 2023 di Kota Kupang. Berbagai kegiatan digelar selama 3 hari itu antara lain acara pembukaan, kunjungan dan pemberian bingkisan ke panti asuhan, donor darah, jalan sehat, pasar dan hiburan rakyat, seminar, serta acara puncak.
“Dari data yang saya terima dan dari hasil kunjungan saya ke kantor empat Kopdit di Kota Kupang hari ini, saya dengan bangga dan penuh keyakinan menyatakan bahwa NTT menjadi role model pelaksanaan Visi 2045 Koperasi Pilar Negara Sektor Jasa Keuangan. Jadi, bagi Pemerintah maupun Gerakan Koperasi Indonesia yang ingin belajar serius tentang koperasi di sektor keuangan, datanglah ke NTT,” ujar Nurdin Halid saat menjadi pembicara Seminar Ekonomi Kerakyatan, di aula Balai Kota Kupang, (28/7/2023).

Selain Nurdin Halid, pembicara lain dalam Seminar itu ialah pejabat walikota Kupang George Hadjoh dan Ketua Koperasi Kredit Pintu Air, Yakobus Jano.
Pernyataan yang sama kembali ditegaskan Nurdin Halid saat memberikan sambutan pada Acara Puncak, Sabtu (29/7/2023). Namun ia menekankan pengembangan Koperasi NTT menjadi role model Koperasi Pilar Negara harus bisa menjadi tulang punggung masyarakat dalam mengelola sumber daya alam dan budaya untuk mengentaskan kemiskinan.
“Tantangan koperasi NTT ialah mengembangkan pembiayaan usaha anggota di sektor rill. Atau, melakukan spin off atau divestasi di sektor riil seperti yang dilakukan Kopdit Pintu Air dengan mengembangkan pengolahan minyak kelapa, garam, dan sabun herbal,” ungkap Nurdin Halid.
Politisi senior Partai Golkar itu mengakui dirinya memutuskan menghadiri perayaan Hari Koperasi di NTT karena tertarik untuk melihat langsung perkembangan pesat koperasi-koperasi di propinsi yang dijuluki ‘Nusa Terindah Toleransi’ itu.
“Ada tiga acara Hari Koperasi tingkat propinsi yang digelar berdekatan dalam tiga hari ini. Namun, saya memutuskan ke NTT. Selain karena NTT terlebih dahulu menyampaikan undangan, saya memang ingin melihat langsung pencapaian koperasi-koperasi di NTT. Saya juga bangga karena Harkop Tingkat NTT tahun ini merupakan hasil gotong-royong gerakan koperasi NTT,” ujar Nurdin Halid.
menjadi Pilar Negara ialah jumlah penduduk Indonesia yang berkoperasi mencapai di atas 30%. Artinya, 84 juta dari 280 juta penduduk Indonesia saat ini berkoperasi.
“Di level propinsi, NTT sudah memenuhi indikator tersebut karena jumlah anggota koperasi di NTT mencapai 2,4 juta orang dari total penduduk NTT yang berjumlah sekitar 5,5 juta orang. Angka ini sangat tinggi karena mencapai 40% lebih. Bandingkan dengan rasio anggota koperasi nasional yang hanya 9% lebih. Bahkan masih jauh melampaui rasio anggota koperasi dunia sekitar 16%,” papar Nurdin.
Alasan kedua, kopdit-kopdit di NTT mampu menghimpun 1,3 juta orang dalam wadah koperasi. Atau, lebih dari 50% anggota koperasi di NTT adalah anggota Kopdit. Mayoritas kopdit di NTT kini fokus memberi pinjaman kepada anggota untuk usaha-usaha produktif. Beberapa kopdit besar bahkan sudah mampu mengucurkan pinjaman untuk usaha produktif anggota sekitar 60-80%.
“Itu artinya, kopdit-kopdit di NTT berperan penting menaikkan kesejahteraan masyarakat kelas bawah dan menengah yang tidak punya akses perbankan. Yang menggembirakan, kredit yang dikucurkan beberapa kopdit besar untuk usaha produktif anggota sudah mencapai di atas 60%. Ini pencapaian luar biasa bahwa kopdit-kopdit mampu menghidupkan sektor riil,” ujar Nurdin.
Alasan Ketiga, kopdit-kopdit dan beberapa koperasi jasa di NTT seperti TLM Coop mampu bertumbuh dan berkembang sehat karena benar-benar berjalan di atas nilai-nilai dasar dan prinsip-prinsip koperasi universal dengan pendidikan anggota sebagai pilar kekuatan. Selain jumlah peredaran uang peminjaman yang besar, indikator lain kesehatan kopdit-kopdit ialah rendahnya rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), yaitu rata-rata 1%.
“Konsistensi dan keteguhan menjalankan nilai-nilai dan prinsip koperasilah yang menarik masyarakat untuk berkoperasi. Ada trust di sana. Pendidikan calon anggota maupun pendidikan untuk anggota secara berkala menjadi kunci mengapa masalah kredit macet sangat kecil dialami kopdit-kopdit,” Nurdin Halid menambahkan.(FK/Redaksi)











