
MALANG, satukanindonesia.com – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan, loyalitas atau kesetiaan adalah salah satu ciri karakter orang Timur dalam bekerja.
Pengkhianat, kata Bahlil, bukanlah ciri orang Timur. Taat dan loyal pada atasan adalah hal yang sudah semestinya harus dilakukan.
“Kita ini, rata-rata kita punya nenek moyang ini kan orang-orang setia. Orang-orang yang nggak perlu diuji nyalinya. Taat. Jadi, kalau kita bawahan, taat sama atasan, loyalitas sama atasan, totalitas. Dan itu adalah ciri kita orang Timur. Bukan ciri pengkhianat. Nggak ada itu pengkhianat dalam diri kita. Nggak ada itu,”kata Bahlil dalam acara Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Maluku Periode 2025-2030 dan Rapat Kerja Daerah Tahun 2026 di Ambon, seperti terpantau melalui YouTube Kabar Golkar, Sabtu (07/11/2026).
“Pengkhianat ini kan politik devide et impera. Tapi, saya sudah tahu. Adik, kau baru mau tulis, kakak sudah baca itu,”imbuhnya.
Bahlil yang saat ini menjabat Menko Bidang Hilirisasi & Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian menceritakan latar belakang dirinya. Bahlil bilang, dirinya terlahir dari negeri para raja-raja yang tidak pernah diajarkan untuk menjadi orang yang tidak setia atau pengkhianat.
“Nggak ada itu, nggak ada itu. Kakek saya itu, kalau dari Banda ke sini, pakai perobot, perahu yang tidak ada mesin. Saya SD kan dari Banda ke sini pakai perobot, hanya mengandalkan angin. Kalau nggak ada angin, ya sudah, satu minggu kau di laut,”bebernya.
Bahlil meyakini, tidak ada nakhoda hebat, pelaut hebat tanpa melewati badai ombak dan terik matahari. Dia juga menyebut falsafah pelaut: sekali layar terkembang, pantang surut untuk kembali.
“Saya punya prinsip, mati di medan perang jauh lebih berharga dan bermartabat daripada menjadi pengkhianat atau kembali dalam pertarungan,”tegas Bahlil.
“Saya ingatkan kepada Saudara-saudara saya yang mencoba menghasut anak bangsa, hati-hati kau. Jangan coba main-main,”katanya. [ONE/GRW]













