
SORONG, satukanindonesia.com – Isu lingkungan dan deforestasi yang dihadapi masyarakat adat di Tanah Papua, juga menjadi tantangan yang dihadapi Organisasi Adat Amazon di Brasil.
Demikian hal ini diunggah Nathalia, Juru bicara Organisasi Adat Amazon Brasil dalam Forest Defender Camp (FDC) 2025 di kawasan hutan masyarakat adat adat Tehit Knasaimos, kampung Manggroholo-Sira, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Rabu (24/09/2025).
Ia mengatakan, dengan kondisi sama seperti di Tanah Papua, pelaku deforestasi di Brazil merupakan perusahaan besar.
Oleh karena itu, kata dia, FDC 2025 yang diinisiasi Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan sejumlah pemuda adat, untuk memberikan penguatan dan mempertahankan tanah serta hutan mereka.
Menurutnya, Amazon dan Papua memiliki beberapa kesamaan, yakni mendiami ekosistem hutan yang menjadi paru-paru dunia, menghadapi ancaman perusakan lingkungan hidup akibat deforestasi dan industri ekstraktif.
“Jadi satu-satunya cara untuk melawan perubahan iklim dan deforestasi hutan, bukan saja di Brasil, tapi diusahakan kerja sama antarbenua untuk zero deforestasi,”kata Nathalia.
Dikatakannya, pelaksanaan FDC 2025 yang melibatkan anak muda dari tujuh wilayah adat di Papua, bisa dibentuk solidaritas anak muda sebagai garda terdepan menjaga tanah adat.
Sementara penasihat senior Greenpeace Malaysia, Tharma Pillai mengatakan, keberadaan alam harus dipelihara dengan baik, bukan justru merusak hutan dan lingkungan sekitar.
“Paling penting adalah kita hormati masyarakat adat karena sinonim dengan alam untuk jangka waktu yang lama. Akan tetapi zaman sekarang yang dilihat hutan bukan satu karya yang dihormati, tapi dianggap sebagai satu sumber maka terjadilah deforestasi dengan skala besar,”pungkas Tharma Pillai.
Masyarakat diharapkan dapat melestarikan lingkungan dengan cara tradisional, pemerintah diharapkan agar menghormati terhadap hak-hak masyarakat adat. [**/GRW]













