
Bogor, satukanindonesia.com – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) tidak hanya diarahkan untuk mencetak peserta didik berprestasi secara akademik, tetapi juga membangun generasi yang memiliki keimanan, ketakwaan, akhlak, serta kemampuan menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan global.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah menegaskan, dimulainya SNT angkatan pertama menjadi momentum penting dalam penguatan sistem pendidikan nasional sekaligus upaya memperluas akses terhadap pendidikan bermutu.
“Alhamdulillah hari ini adalah momen bersejarah di mana kita melakukan tonggak sejarah dalam satu sistem pendidikan nasional,” ujar Himmatul dalam Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT Angkatan Pertama di SNT 7 Bogor, dilansir dari infopublik, Senin (10/8/2026).
Menurut Himmatul, angkatan pertama SNT memiliki posisi strategis karena akan menjadi rujukan sekaligus teladan bagi peserta didik pada angkatan berikutnya. Hal serupa berlaku bagi kepala sekolah dan guru yang terpilih untuk menjalankan model pendidikan tersebut.
Ia mengapresiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang telah menyiapkan SNT sebagai bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Namun, Himmatul mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik. Ia menekankan pentingnya menjalankan amanat Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 yang menempatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai bagian dari tujuan penyelenggaraan pendidikan nasional. “Percuma kalau cerdas kalau adabnya buruk, percuma kalau cerdas kalau akhlaknya buruk,” tegasnya.
Karena itu, pendidikan karakter dan nilai keagamaan perlu menjadi fondasi dalam penyelenggaraan SNT. Menurut Himmatul, kecerdasan harus berjalan bersama tanggung jawab moral agar ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk kemaslahatan masyarakat.
Selain karakter, peserta didik SNT juga perlu dibekali kompetensi yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Himmatul menyebut kemampuan critical thinking, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi atau 4C sebagai keterampilan penting yang harus terus dikembangkan.
Kemampuan komunikasi, menurut dia, tidak kalah penting dengan prestasi akademik. Peserta didik perlu belajar menyampaikan gagasan dengan baik, membangun relasi positif, serta menghindari pola komunikasi yang didasari kebencian. “Komunikasi dengan baik, jangan komunikasi yang berdasarkan kebencian,” pesannya.
Perhatian juga diarahkan pada perilaku di ruang digital. Himmatul menilai maraknya penghinaan, fitnah, hoaks, dan komentar negatif di media sosial menjadi tantangan pembentukan karakter generasi muda.
Literasi Digital
Karena itu, peserta didik SNT perlu memiliki literasi digital dan kecakapan memahami kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Kompetensi tersebut penting agar generasi muda tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menggunakannya secara bertanggung jawab.
“Selain berkomunikasi kita juga harus berkolaborasi dengan yang lain supaya tercapai kerja sama yang baik. Namun di era sekarang ini dengan perkembangan teknologi digital, kita juga harus punya literasi secara digital,” ujarnya.
Himmatul juga berharap SNT dapat menjadi ruang tumbuh bagi peserta didik dengan potensi akademik maupun nonakademik. Indonesia, menurut dia, memiliki banyak anak dengan kemampuan luar biasa yang perlu memperoleh lingkungan pendidikan yang mampu mengembangkan potensinya. Ia mencontohkan sosok B. J. Habibie sebagai figur yang menunjukkan bagaimana keunggulan ilmu pengetahuan dapat dikembangkan menjadi kontribusi besar bagi bangsa.
Melalui SNT dan berbagai program pendidikan unggulan lainnya, Himmatul berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu berkontribusi bagi Indonesia. “Di sini, di sekolah terintegrasi maupun sekolah unggulan Garuda, diharapkan muncul siswa-siswi yang cerdas dan jenius menggantikan Pak Habibie berikutnya,” katanya.
Ia memastikan Komisi X DPR RI akan terus mendukung pengembangan pendidikan, termasuk melalui dukungan anggaran bagi Kemendikdasmen dan kementerian terkait.
Bagi Himmatul, peserta didik SNT angkatan pertama memiliki tanggung jawab lebih besar karena menjadi bagian dari sejarah awal program tersebut. Mereka diharapkan tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi teladan bagi generasi berikutnya. “Selamat belajar. Mudah-mudahan kita semua hari ini yang hadir menjadi saksi sejarah, khususnya di Kota Bogor, dan adik-adik menjadi suri teladan untuk generasi-generasi berikutnya,” pungkasnya.(***)













