
Jakarta, SatukanIndonesia.com – Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian baru virus COVID-19 ditemukan di Inggris lebih menular.
Sejauh ini telah diidentifikasi di Denmark, Belanda, Irlandia Utara, dan Australia.
Hal itu ikut disampaikan oleh WHO di laman resminya pada Senin (21/12/2020) lalu.
Seperti pada siaran persnya, WHO menjelaskan bahwa pihaknya telah mendapatkan laporan dari para ilmuwan Inggris. Laporan tidak lain adalah bahwa jenis virus baru 40-70 persen lebih menular dari varian asli.
“Laporan awal oleh Inggris menyatakan bahwa varian ini lebih dapat ditularkan daripada virus yang beredar sebelumnya, dengan perkiraan peningkatan antara 40 hingga 70 persen dalam hal penularan (menambahkan 0,4 ke nomor reproduksi dasar atau R0, membawanya ke kisaran 1,5 hingga 1,7),” tulis WHO dalam sebuah pernyataan.
Meski begitu, WHO juga kembali menerangkan hingga kini belum ada bukti bahwa varian baru lebih mematikan atau akan mempengaruhi keefektifan vaksin.
“Saat ini, belum ada cukup informasi untuk menentukan apakah varian ini terkait dengan perubahan dalam keparahan penyakit klinis, respons antibodi, atau kemanjuran vaksin,” sambung WHO.
WHO kemudian mengimbau agar pihak terkait bisa melakukan studi lanjutan epidemiologi dan virologi. Terutama untuk mengetahui setiap perubahan fungsi virus dalam hal infektivitas serta patogenisitas.
Selain itu, WHO menyarankan semua negara untuk sebisa mungkin secara rutin melakukan pengurutan virus SARS-CoV-2 dan melaporkan datanya secara internasional.
Sementara itu, temuan mutasi virus COVID-19 sendiri diketahui berawal dari peningkatan kasus infeksi tak terduga di Inggris Tenggara.
Pada 5 Oktober-5 Desember, peneliti menemukan bahwa lebih dari 50 persen diidentifikasi sebagai strain varian.
Analisis retrospektif kemudian melacak bahwa varian pertama teridentifikasi di Kent, South East England, pada 20 September 2020. Kasus itu lalu dengan cepat diikuti oleh peningkatan tajam pada November.
Saat itu, pihak berwenang juga melihat bahwa sebagian besar kasus varian baru dialami oleh kelompok di bawah usia 60 tahun.
Lalu pada 13 Desember, pihak berwenang berhasil mengindentifikasi total 1108 kasus varian baru. Setelah itu, pada 14 Desember, pihak berwenang Inggris dan Irlandia Utara resmi melaporkan kepada WHO bahwa varian SARS-CoV-2 baru.
Virus itulah yang kemudian diidentifikasi sebagai SARS-CoV-2 VUI 202012/01. (*)













