• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Amal Petani dan Food Estate

Amal Petani dan Food Estate

Oktober 12, 2020
Menkeu Purbaya Nilai Kebijakan DHE SDA Berpotensi Dongkrak Kinerja Himbara

Menkeu Purbaya Nilai Kebijakan DHE SDA Berpotensi Dongkrak Kinerja Himbara

Juni 2, 2026
Ditjen Imigrasi Siapkan Layanan Khusus untuk Percepat Kepulangan Jamaah Haji Indonesia 2026

Ditjen Imigrasi Siapkan Layanan Khusus untuk Percepat Kepulangan Jamaah Haji Indonesia 2026

Juni 2, 2026
ADVERTISEMENT
Mensos Sebut 45 Persen Bansos Tak Tepat Sasaran Akibat Data Kurang Akurat

Mensos Sebut 45 Persen Bansos Tak Tepat Sasaran Akibat Data Kurang Akurat

Juni 2, 2026
Komisi XIII DPR: Revisi UU HAM untuk Perkuat Perlindungan HAM

Komisi XIII DPR: Revisi UU HAM untuk Perkuat Perlindungan HAM

Juni 2, 2026
Meski Diguyur Hujan, Seluruh Kader PDI Perjuangan Tetap Semangat Melaksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila

Meski Diguyur Hujan, Seluruh Kader PDI Perjuangan Tetap Semangat Melaksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila

Juni 2, 2026
Lapas Kelas IIA Batam Berikan Remisi Khusus Bagi 15 Warga Binaan yang Beragama Buddha Pada Hari Raya Waisak 2570 BE Tahun 2026

Lapas Kelas IIA Batam Berikan Remisi Khusus Bagi 15 Warga Binaan yang Beragama Buddha Pada Hari Raya Waisak 2570 BE Tahun 2026

Mei 31, 2026
Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila PDI Perjuangan Kota Batam Gelar Upacara Bendera Kebangsaan dan Sambut Bulan Bung Karno

Dalam Rangka Hari Lahir Pancasila PDI Perjuangan Kota Batam Gelar Upacara Bendera Kebangsaan dan Sambut Bulan Bung Karno

Mei 31, 2026
DPRD Batam Mulai Laksanakan Reses, Serap Aspirasi Warga

DPRD Batam Mulai Laksanakan Reses, Serap Aspirasi Warga

Mei 31, 2026
Komisi II DPR Gandeng China Perkuat Kerjasama Pembangunan dan SDM Daerah

Komisi II DPR Gandeng China Perkuat Kerjasama Pembangunan dan SDM Daerah

Mei 31, 2026
Anggota DPR Komisi XI Minta Pemerintah dan BI Jaga Kepercayaan Investor Domestik

Anggota DPR Komisi XI Minta Pemerintah dan BI Jaga Kepercayaan Investor Domestik

Mei 31, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Rabu, Juni 3, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Fokus Berita

Amal Petani dan Food Estate

[Opini]

Oktober 12, 2020
in Fokus Berita
0
0
SHARES
621
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT

Amal Petani dan Food Estate

oleh:

Gurgur Manurung*

 

Gurgur Manurung (Staf Ahli Komisi VI DPR RI)

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Jika saya inventarisasi seluruh profesi atau kegiatan manusia di kolong langit ini maka kegiatan atau profesi paling enak adalah petani. Petani itu hidup di alam bebas dan terus berolah raga sambil mengerjakan pertaniannya.

Dalam kehidupan petani tidak perlu intrik, tetapi hanya fokus kepada pertaniannya supaya tanamannya bertumbuh dengan baik. Ironisnya, petani di negeri ini identik dengan penderitaan karena mahalnya bibit, pupuk, iklim yang berubah dan harga hasil pertanian yang tidak menentu.

Kesulitan yang selalu berulang adalah harga hasil pertanian yang tidak menentu. Harga yang tidak menentu membuat biaya panenpun tidak cukup jika hasilnya dijual. Dalam konteks harga yang tidak stabil, dapatkah petani tetap panen dan hasil panen dijadikan amal jariah?

Ketika saya kecil hingga remaja, doa dan harapan ibu saya adalah harga hasil pertaniannya mahal atau minimal tidak jatuh harga. Kalau ayah saya tidak begitu peduli karena bekerja di ladang adalah kesenangannya. Mahal atau tidak itu urusan ibu saya.

Ayah saya mengerjakan ladangnya setiap hari. Bagi ayah saya, disyukurin saja. Bekerja terus menerus untuk menanam dan memperluas lahan pertaniannya. Itu saja.

Sementara ibu saya selalu degdegan jika menjelang panen. Pikiran ibu saya, jika harga jatuh maka kemungkinan sulit dia membiayai anaknya sekolah dan kuliah.

Ketika saya dewasa dan kuliah, saya sering merenung ketika membaca dan melihat petani membiarkan hasil panennya karena merugi. Di berbagai media, beberapa petani membuang hasil pertanian di jalan raya sebagai protes ke pemerintah karena tidak mampu menjaga kestabilan harga.

Abang saya ada yang menjadi petani dan menurut saya dia itu unik. Dia berkeyakinan bahwa ketidakstabilan harga diatasi dengan terus menerus berproduksi. Karena tidak mungkin harga tidak naik.

Dalam setahun pasti turun naik. Dengan pola itu maka kita pasti mendapatkan harga yang naik dan turun. Dengan pola itu hidup kita tetap stabil.

Jika hasil pertanian abang saya teramat jatuh, maka tidak dipanen. Tetapi hasil panen dijadikan bibit. Karena kemungkinan harga jatuh itu, maka kualitas pertaniannya harus unggul karena akan dijadikan bibit dan bisa dijual untuk periode berikutnya.

Dengan pola ini, perilaku petani yang membuang hasil panen ke jalan raya tidak terjadi. Dari aspek humanism dan kecintaan kita kepada alam, membuang hasil panen ke jalan raya sangat tidak baik ke psikologis petani.

Jika kita merenungkan penderitaan petani karena fluktuasi harga yang tidak terkendali, bagaimana jika menjual hasil panen dengan harga jatuh dianggap sebagai amal jariah?

Setelah beramal jariah, kemudian kerja keras lagi untuk menemukan harga yang tinggi. Mengapa petani harus menganggap hasil pertanian yang jatuh harga sebagai amal jariah? Karena sikap beramal jariah memberikan semangat yang tinggi.

Sebaliknya, membuang hasil pertanian sebagai wujud protes ke pemerintah melukai nilai-nilai luhur petani. Bagi petani, makna hasil pertanian adalah anugerah Tuhan. Betapa bahagianya petani jika hasil pertanian jatuh harga dan diberikan ke orang lain sebagai amal jariah.

Persoalan petani kita memang pelik karena keberpihakan pemerintah ke petani tidak terwujud. Subsidi pupuk terus menurun sementara negara memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk membayar hutang asuransi jiwasraya sekitar Rp 22 T.

Padahal, Jiwasraya bangkrut karena korupsi pejabat Jiwasraya. Ada 18 lembaga negara yang membina Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tumpang tindih Lembaga membina UMKM yang tidak ada kaitan dengan penyediaan pangan.

Organisasi pangan dunia Food Agriculture Organization (FAO) telah memberikan sinyal akan keterancaman pangan dunia. Tetapi Indonesia fokus ke UMKM dengan berbagai Penyertaan Modal Negara (PMN) di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT. Permodalan Nasional Madani yang diberikan negara puluhan triliun. (PT. PNM) dan dana Corporate Social Responsibilty (CSR) habis untuk pembinaan UMKM.

Padahal, semua kehidupan ini bermuara kepada petani. Hasil pertanian yang harus dikelola dengan baik agar hidup kita tidak terancam oleh krisis pangan?

Pertanyaan yang muncul adalah jika pertanian adalah sumber utama agar kita tidak terdampak krisis pangan mengapa semua kita fokus ke UMKM, industri, perdagangan, dan berbagai sektor lain dalam kondisi krisis?

Dalam konteks inilah kelihatan sekali kekuatan politik petani teramat lemah. Aliran dana ke UMKM banyak karena dorongan politik, bukan? Kekuatan politik pelaku UMKM sangat kuat. Jumlah petani itu sangat banyak, tetapi kekuatan politiknya teramat rendah.

Food Estate

Rencana pemerintahan Jokowi membuka food estate menimbulkan pertanyaan, apa persoalan pertanian kita sehingga muncul ide food estate?

Persoalan pertanian kita adalah banyaknya petani gurem yang tidak memiliki lahan, petani memiliki lahan tidak memiliki tenaga/teknologi untuk mengelola, petani tidak memiliki pupuk atau tidak memiliki keterampilan untuk membuat pupuk organik, harga yang tidak jelas dan petani tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan nilai tambah pertanian.

Petani kita pada umumnya mengolah tanah dengan cangkul atau alat lain yang menggunakan tangan, bekerja dengan bantuan kerbau atau sapi, dibantu dengan traktor kecil, dan menanam dengan teknologi sederhana.

Tiba waktunya masa pemupukan, petani mengalami pupuk langka atau bahkan tidak ada, ketika panen harga jatuh. Siklus petani inilah yang berulangkali. Persoalan petani selalu berulang karena tidak ditangani dengan kebijakan yang serius.

Melihat persoalan petani yang selalu berulang, apakah food estate menjadi jawaban akan ancaman krisis pangan? Persoalan pangan kita tidak ada kaitannya dengan food estate.

Jika food estate berhasil maka harga di pasar akan terganggu. Jika produk food estate dijual ke luar negeri, maka jangan disebut food estate untuk menghadapi krisis pangan.

Persoalan utama petani adalah ketidakstabilan harga, maka food estate menyumbang produknya ke pasar maka petani makin menderita. Penderitaan ini tidak bisa lagi disebut amal jariah karena produksi di pasar akan berlebih. Kualitas produk petani kalah saing dengan food estate karena kalah dalam teknologi.

Jika food estate berhasil sukses, produk petani makin tidak laku, maka petani tidak lagi amal jariah karena menjual dengan murah, tetapi menerima amal jariah berupa sembako dari pemerintah. Mengapa?, petani pasti terseok-seok bertanding dengan food estate.

Karena itu, jika pemerintah serius mengatasi ancaman krisis pangan maka, pendampingan petani dengan pelatihan teknologi, ketersediaan lahan, ketersediaan pupuk, dan menjaga harga stabil. Kemudian, petani didampingi secara kontinu untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

Jalan terbaik bagi bangsa ini untuk menyiasati krisis pangan adalah perkuat petani dengan segala kebutuhannya. Dengan demikian, petani kita mandiri, bangsa kita sampai kapanpun tidak akan krisis pangan.

Kekuatan pangan kita ada di petani, bukan di food estate. Petani kita sudah teruji, karena itu pemerintah harus percaya untuk memberikan dukungan sepenuh hati. Petani kita adalah pemberi amal jariah yang tulus, bukan petani penerima sembako.(GM/Aj)

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: Amal Petani dan Food EstateFood EstateGurgur ManurungGurmanOpinipetani
ShareTweetSend

Related Posts

Bupati Humbang Hasundutan Jadi Keynote Speaker di Kementerian Perindustrian, Dorong Hilirisasi Kemenyan untuk Kesejahteraan Petani

Bupati Humbang Hasundutan Jadi Keynote Speaker di Kementerian Perindustrian, Dorong Hilirisasi Kemenyan untuk Kesejahteraan Petani

Oktober 18, 2025
Pandangan berbasis Ensiklik Laudato S’i: RDP PMKRI dan MRPS tentang Persoalan Food Estate.

Pandangan berbasis Ensiklik Laudato S’i: RDP PMKRI dan MRPS tentang Persoalan Food Estate.

Oktober 8, 2025
PLTMH PT. BEL di Baktiraja Diduga Picu Kekeringan, Petani Mengadu ke DPRD Sumatera Utara

PLTMH PT. BEL di Baktiraja Diduga Picu Kekeringan, Petani Mengadu ke DPRD Sumatera Utara

Agustus 27, 2025

Presiden Prabowo Pimpin Aksi Panen Nasioal, Tanpa Petani Tidak Ada Negara Kesatuan Republik Indonesia

April 7, 2025

Cak Imin Janji Langsung Hentikan Food Estate Jika Menang Pilpres

Januari 26, 2024
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?