• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
EcoNusa dan  Gelar LCOY, Anak Muda Suarakan Krisis Tambang

EcoNusa dan Gelar LCOY, Anak Muda Suarakan Krisis Tambang

Agustus 4, 2025
Dugaan Korupsi Rp6,5 Miliar, Polisi Geledah Sekretariat DPR Papua Barat Daya

Dugaan Korupsi Rp6,5 Miliar, Polisi Geledah Sekretariat DPR Papua Barat Daya

Juli 30, 2026
Presiden Prabowo Percepat Proyek Kereta Api Trans Sumatera, Target Tembus Banda Aceh

Presiden Prabowo Percepat Proyek Kereta Api Trans Sumatera, Target Tembus Banda Aceh

Juli 30, 2026
ADVERTISEMENT
Wakapolri Lantik Kepengurusan Baru KBPP Polri Masa Bakti 2026-2031

Wakapolri Lantik Kepengurusan Baru KBPP Polri Masa Bakti 2026-2031

Juli 30, 2026
Pemkab Tapanuli Utara Terima Bantuan Mobil Pelayanan Pendapatan Daerah Keliling dari Sarulla Operations Ltd

Pemkab Tapanuli Utara Terima Bantuan Mobil Pelayanan Pendapatan Daerah Keliling dari Sarulla Operations Ltd

Juli 30, 2026
Beras Malaysia Masuk Batam Tanpa Karantina? Disperindag Diabaikan, Publik Resah Harga Melambung

Beras Malaysia Masuk Batam Tanpa Karantina? Disperindag Diabaikan, Publik Resah Harga Melambung

Juli 30, 2026
Pemerintah Indonesia Bungkam Aktivis Lingkungan di Tanah Papua

Pemerintah Indonesia Bungkam Aktivis Lingkungan di Tanah Papua

Juli 30, 2026
Pemprov DKI Beri Pelatihan Gratis bagi Pekerja Perusahaan

Pemprov DKI Beri Pelatihan Gratis bagi Pekerja Perusahaan

Juli 30, 2026
Menkomdigi Tegaskan Pembangunan Infrastruktur Digital Jadi Fondasi Ekonomi Digital dan Kedaulatan Indonesia

Menkomdigi Tegaskan Pembangunan Infrastruktur Digital Jadi Fondasi Ekonomi Digital dan Kedaulatan Indonesia

Juli 30, 2026
Menteri Pertanian Tegaskan Seluruh Pabrik Gula Wajib Memiliki Kebun Tebu Demi Swasembada Nasional

Menteri Pertanian Tegaskan Seluruh Pabrik Gula Wajib Memiliki Kebun Tebu Demi Swasembada Nasional

Juli 30, 2026
Prabowo Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan Setelah Delapan Tahun

Prabowo Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan Setelah Delapan Tahun

Juli 30, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Jumat, Juli 31, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Daerah

EcoNusa dan Gelar LCOY, Anak Muda Suarakan Krisis Tambang

[Daerah]

Agustus 4, 2025
in Daerah
0
0
SHARES
62
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
FOTO: Lokakarya Local Conference of Youth (LCOY) Indonesia//ISTIMEWA

SORONG, satukanindonesia.com – Menggali keresahan anak muda Raja Ampat terutama dari Suku Matbat, yang kini berada di pusaran konflik tambang dan kehancuran biodiversitas. EcoNusa bersama Komunitas Atap Papua mengggelar Lokakarya Local Conference of Youth (LCOY) Indonesia, Sabtu (02/08/2025).

Lokakarya yang berlangsung Belantara Cafe Sorong, Papua Barat mendadak menjadi ruang pengakuan, keresahan, dan komitmen anak-anak muda terhadap krisis ekologis yang mengancam tanah kelahiran mereka.

“Kita bukan hanya bicara soal lingkungan. Kita bicara soal tanah moyang yang sedang digadai. Raja Ampat sedang digerus atas nama pembangunan,”tegas Vilta Lefaan dari Yayasan EcoNusa di hadapan puluhan peserta forum diskusi kelompok terarah (FGD).

Menurutnya, anak-anak muda ini gelisah, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Mereka tidak punya cukup akses informasi dan strategi untuk melawan. Tapi keinginan untuk melawan jauh lebih besar dari keinginan menerima tambang,”kata Vilta.

Selama lima jam forum diskusi, keresahan yang muncul begitu nyata. Banyak anak muda takut bicara soal konflik lingkungan, apalagi konflik dengan perusahaan tambang.

“Program ini memang tidak secara spesifik bicara soal tambang. Tapi karena kita sedang bicara soal Raja Ampat, ya, otomatis kita terlibat langsung dalam konflik tambang,”katanya.

Vilta menambahkan, dilema yang dialami anak muda Raja Ampat adalah persoalan yang sangat dalam yakni antara menerima tambang atau menyelamatkan ekosistem yang sudah diwariskan ribuan tahun.

“Sayangnya, karena keterbatasan pengetahuan, mereka tidak tahu harus menolak dari mana. Informasi masuknya tambang itu terlalu tiba-tiba. Mereka kaget. Belum siap. Tidak punya amunisi. Tidak punya pegangan,”ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan, dokumen perusahaan tambang harus dibuka ke publik. Komitmen mereka pada tanggung jawab sosial (CSR) harus ditagih.

“Kita tidak bisa demo lalu perusahaan pergi. Tidak cukup. Harus ada strategi bertahan hidup. Harus ada pembatasan. Anak-anak muda harus dilibatkan dalam drafting regulasi lingkungan,”ujar Vilta.

Ketua Komunitas Atap Papua, Desy Sentuf menyuarakan, relasi perempuan adat dengan kerusakan ekologis di Papua. Sambung, menurutnya, perempuan adat adalah korban dari sistem pembangunan, yang mengabaikan suara masyarakat lokal.

“Perempuan adat hari ini jadi korban. Korban iklim, korban investasi, korban Negara. Mereka kehilangan tanah, kehilangan identitas, tapi suaranya dibungkam,”kata Desy.

Ia mengecam, Negara yang terus memproduksi janji kosong terhadap masyarakat adat.

“Sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Tapi Papua masih terus dikorbankan. Surga kecil seperti Raja Ampat dikapling demi cuan proyek. Lalu siapa yang jaga biodiversitas? Siapa yang dengar jeritan perempuan adat?”kata Desy.

Menurutnya, situasi Raja Ampat hari ini bukan hanya tentang tambang, tapi juga krisis identitas, krisis representasi politik, dan krisis ruang hidup perempuan adat.

“Pemerintah jangan tuli. Perempuan adat bukan objek politik. Mereka adalah penjaga terakhir alam. Mereka bukan kuota 30 persen, tapi benteng terakhir peradaban,”tegas Desy.

Ditambahkannya, pemerintah pusat dan daerah harus refleksi total menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia. “Kalau masih ada tanah dirampas, suara dibungkam, adat dilucuti, lalu apa arti merdeka bagi kami di Papua?”

Mario Matinahoru, Delegasi LCOY Indonesia dari Papua Barat Daya menegaskan, kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian menuju COP 30 di Brasil.

Menurutnya, lokakarya ini menjadi ruang belajar penting bagi anak-anak muda Raja Ampat.

“Mereka selama ini cuma tahu hashtag Save Raja Ampat, tapi tidak tahu apa yang diselamatkan. Mereka tidak tahu bahwa di balik hashtag itu ada deforestasi, ada tambang, ada pemekaran daerah yang mengancam,”pungkas Mario.

Sebagai anak muda dari suku Matbat, Mario menilai, salah satu masalah utama adalah minimnya ruang belajar bagi generasi muda. Forum ini membuka mata mereka.

“Kita hadirkan EcoNusa, Greenpeace, komunitas perempuan adat, biar anak-anak tahu bahwa ini bukan hanya soal tambang. Ini soal masa depan mereka,” katanya.

Menurut Mario, ancaman terhadap Raja Ampat bukan cuma dari perusahaan, tapi juga dari negara lewat proyek pemekaran wilayah, PSN, dan investasi skala besar yang tidak melibatkan masyarakat adat.

“Negara harus hadir bukan untuk mengatur tanah, tapi untuk mendengar suara akar rumput. Hari ini kita minta satu: jangan rusak surga terakhir kami. Jangan jadikan Raja Ampat sebagai korban pembangunan,”tegas Mario.

Lokakarya LCOY ini ditutup dengan satu suara: anak-anak muda Papua, khususnya dari Raja Ampat, tidak tinggal diam.

“Raja Ampat bukan komoditas. Raja Ampat adalah rumah. Rumah yang tidak untuk dijual, tidak untuk ditambang. Tapi untuk dijaga,”pungkasnya. [**/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: EcoNusaKomunitas Atap PapuaKrisis TambangRaja AmpatSuku Matbat
ShareTweetSend

Related Posts

Wagub Tegaskan Tiga Pulau di Raja Ampat Bagian dari Tanah Papua

Wagub Tegaskan Tiga Pulau di Raja Ampat Bagian dari Tanah Papua

Februari 16, 2026
Tambang dan Menjaga Ekosistem di Jantung Biodiversitas Raja Ampat

Tambang dan Menjaga Ekosistem di Jantung Biodiversitas Raja Ampat

Juni 15, 2025
Apresiasi Pencabutan Izin Usaha Penambangan Nikel, MPR RI : Raja Ampat Harus Diselamatkan

Apresiasi Pencabutan Izin Usaha Penambangan Nikel, MPR RI : Raja Ampat Harus Diselamatkan

Juni 13, 2025

Bareskrim Polri Selidiki Dugaan Pelanggaran Tambang Nikel di Raja Ampat Papua

Juni 12, 2025

4 Izin Tambang Dicabut Sesuai Kajian, Bahlil: PT GAG Nikel Raja Ampat Dalam Pengawasan

Juni 11, 2025
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?