• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

November 5, 2025
Konsensus Pernyataan anti-rudal Tiongkok Forum Kepulauan Pasifik Gagal

Konsensus Pernyataan anti-rudal Tiongkok Forum Kepulauan Pasifik Gagal

Agustus 9, 2026
Dokumenter Film Pesta Babi Raih Dua Award, Victor Mambor : Orang Papua Masih Terdiskriminasi

Dokumenter Film Pesta Babi Raih Dua Award, Victor Mambor : Orang Papua Masih Terdiskriminasi

Agustus 9, 2026
ADVERTISEMENT
Sebelum Penembakan, Kabid Humas Polda : Wamenpar RI Tinggalkan Jayawijaya

Sebelum Penembakan, Kabid Humas Polda : Wamenpar RI Tinggalkan Jayawijaya

Agustus 9, 2026
‎REL-MBG Perkuat Komitmen Pelaksanaan Program MBG dengan 6 Pilar Kerja

‎REL-MBG Perkuat Komitmen Pelaksanaan Program MBG dengan 6 Pilar Kerja

Agustus 9, 2026
Presiden Prabowo Tinjau Teknologi BRIN, Dari Air Darurat hingga Satelit

Presiden Prabowo Tinjau Teknologi BRIN, Dari Air Darurat hingga Satelit

Agustus 9, 2026
Tembakan OTK di Lokasi Festival Lembah Baliem, Dua Warga Terluka

Tembakan OTK di Lokasi Festival Lembah Baliem, Dua Warga Terluka

Agustus 9, 2026
Miliki Keunikan, Bupati Hermus Indou : Kopi Arfak Harus Dikembangkan

Miliki Keunikan, Bupati Hermus Indou : Kopi Arfak Harus Dikembangkan

Agustus 9, 2026
Puluhan Lembaga Bersatu Hadapi Krisis Jurnalisme, Koalisi Media Dibentuk

Puluhan Lembaga Bersatu Hadapi Krisis Jurnalisme, Koalisi Media Dibentuk

Agustus 8, 2026
Peredaran Narkotika Senilai Rp3,2 Miliar Berhasil Digagalkan TNI AL dan Stakeholder Terkait di Bandara Internasional Juanda

Peredaran Narkotika Senilai Rp3,2 Miliar Berhasil Digagalkan TNI AL dan Stakeholder Terkait di Bandara Internasional Juanda

Agustus 8, 2026
Jelang HUT Ke-40 PPAL,  Ketum PPAL Pimpin Ziarah dan Silaturahmi Purnawirawan di TMPNU Kalibata

Jelang HUT Ke-40 PPAL, Ketum PPAL Pimpin Ziarah dan Silaturahmi Purnawirawan di TMPNU Kalibata

Agustus 8, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Minggu, Agustus 9, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Daerah

Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

[Fokus Berita]

November 5, 2025
in Daerah, Fokus Berita, News
0
0
SHARES
261
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
FOTO: Perlawanan ekologis dan spiritual masyarakat adat Suku Awyu di Papua//ISTIMEWA

JAYAPURA, satukanindonesia.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui para ahli hak asasi manusia mendesak, Pemerintah Republik Indonesia segera mengakui secara resmi keberadaan Masyarakat Adat dan menjadikan mereka mitra sejajar dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Seruan keras ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa, pada 4 November 2025.

Dalam pernyataan tersebut, PBB menyoroti, situasi masyarakat adat di Indonesia terutama di Tanah Papua sebagai salah satu isu paling mendesak dalam konteks hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan.

Para ahli PBB menyatakan, keprihatinan mendalam atas belum adanya pengakuan formal terhadap masyarakat adat di Indonesia yang berdampak langsung pada pelanggaran sistemik terhadap hak-hak mereka.

“Mengakui semua kelompok, menghormati perbedaan mereka, dan memungkinkan mereka berkembang dalam semangat demokrasi sejati, tidak menyebabkan konflik, justru mencegahnya,”demikian dikutip dari pernyataan resmi para ahli PBB, Rabu (05/11/2025).

Menurut mereka, tanpa pengakuan hukum yang kuat, masyarakat adat terus menjadi kelompok paling rentan terhadap diskriminasi, kehilangan tanah, dan marginalisasi sosial-ekonomi.

PBB juga secara khusus menyoroti, Tanah Papua sebagai titik kritis dalam persoalan masyarakat adat Indonesia. Revisi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang disahkan pada 2021 dinilai, justru memusatkan kekuasaan di Jakarta dan melemahkan tata kelola adat di tingkat lokal.

Kebijakan itu disebut memperparah kemiskinan struktural, penganiayaan, dan pengungsian paksa terhadap komunitas adat di wilayah paling timur Indonesia.

Dalam laporan tersebut, para ahli PBB menggambarkan bagaimana militerisasi wilayah adat dan eksploitasi sumber daya alam di Papua melalui pertambangan, infrastruktur besar, dan proyek perkebunan telah memperkecil ruang hidup masyarakat adat serta memperlemah partisipasi mereka dalam pembangunan.

PBB juga menyoroti, kembalinya pola transmigrasi di Papua yang dianggap menyerupai pendekatan kolonial masa lalu. Program ini dinilai berpotensi mengubah komposisi demografi Papua, mempercepat asimilasi paksa, dan mengancam kelangsungan budaya serta bahasa masyarakat adat.

Selain itu, pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan proyek ekstraktif seperti tambang, perkebunan sawit, serta pembangunan jalan dan bendungan besar kerap dilakukan tanpa persetujuan bebas dan diinformasikan secara penuh (Free, Prior and Informed Consent atau FPIC) dari masyarakat adat yang terdampak.

Akibatnya, banyak komunitas adat kehilangan tanah ulayat, menghadapi kerusakan ekologis, dan terjebak dalam militerisasi ruang hidup mereka.

Para ahli PBB juga menyoroti, meningkatnya kriminalisasi terhadap pembela hak masyarakat adat, termasuk di Papua.

Banyak aktivis dan pemimpin adat dilaporkan mengalami penangkapan sewenang-wenang, intimidasi, hingga penyiksaan, bahkan distigmatisasi sebagai separatis atau teroris hanya karena memperjuangkan hak tanah leluhur. Ribuan keluarga adat Papua juga dilaporkan hidup dalam pengungsian internal, akibat operasi keamanan dan proyek pembangunan besar di wilayah mereka.

“Beberapa masyarakat adat di Indonesia sedang didorong menuju pemusnahan lambat,”tulis para ahli PBB dalam laporan tersebut.

Dalam pernyataannya, para ahli PBB mendesak Pemerintah Indonesia mengambil empat langkah konkret.

Pertama, mengakui masyarakat adat secara hukum dan politik sebagai entitas sah dengan hak kolektif atas tanah, budaya, dan sumber daya alam.

Kedua, menjamin pelaksanaan FPIC sebelum proyek pembangunan dilakukan di wilayah adat.

Ketiga, meninjau kembali kebijakan Otonomi Khusus Papua agar memperkuat, bukan melemahkan, tata kelola adat lokal..

Keempat, menghentikan kriminalisasi terhadap pembela hak adat dan memastikan investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran HAM di wilayah adat.

 

PBB juga menyinggung, lambannya proses pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat di Indonesia. Meski pemerintah telah mendukung Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) sejak 2007, namun hingga kini RUU Masyarakat Adat belum juga disahkan.

Koalisi masyarakat sipil menilai, pengesahan RUU tersebut sangat penting untuk memberikan payung hukum yang kuat bagi masyarakat adat, mencegah konflik agraria, dan memastikan keadilan sosial bagi komunitas adat di seluruh Nusantara, terutama di Tanah Papua.

Pernyataan para ahli PBB ini menjadi peringatan moral bagi pemerintah Indonesia agar tidak menutup mata terhadap realitas masyarakat adat yang terpinggirkan. Pengakuan, perlindungan, dan pelibatan masyarakat adat dalam proses pembangunan nasional bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi juga pondasi bagi perdamaian dan keberlanjutan bangsa.

 

“Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan kepemimpinan moral di Asia Pasifik dengan menempatkan masyarakat adat sebagai mitra sejajar, bukan objek pembangunan,”tandas pernyataan resmi OHCHR. [**/GRW]

Komentar Facebook

Tags: HAMMasyarakat AdatOtsusPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
ShareTweetSend

Related Posts

Perkuat SDM Papua, Ketua Komite III DPD RI Mendorong Reformasi Tata Kelola Dana Otsus

Perkuat SDM Papua, Ketua Komite III DPD RI Mendorong Reformasi Tata Kelola Dana Otsus

Agustus 6, 2026
Kurangi Tetegangan, PM Kepalaun Solomon Serukan Dialog Papua Barat dan Indonesia

Kurangi Tetegangan, PM Kepalaun Solomon Serukan Dialog Papua Barat dan Indonesia

Juli 6, 2026
Pemerintah Indonesia : Tidak Ada Pemotongan Dana Otonomi Khusus Papua

Pemerintah Indonesia : Tidak Ada Pemotongan Dana Otonomi Khusus Papua

Mei 16, 2026

Ketua Komite III DPD RI Serap Aspirasi Masyarakat Adat Mbaham Matta

Mei 12, 2026

Menteri ATR/BPN: Pemerintah Prioritaskan Perlindungan Hak Tanah Ulayat Masyarakat Adat

Mei 11, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?