• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

November 5, 2025
Wali Kota Bekasi Angkat Bicara Soal Pemanggilannya oleh Jampidsus Kejagung

Wali Kota Bekasi Angkat Bicara Soal Pemanggilannya oleh Jampidsus Kejagung

September 29, 2026
Seorang warga Maybrat Diduga Disekap di pos Marinir, Pansus DPD RI Diminta Merespon

Seorang warga Maybrat Diduga Disekap di pos Marinir, Pansus DPD RI Diminta Merespon

September 28, 2026
ADVERTISEMENT
Jaga Hak Adat Terpenuhi, Dr. Filep Wamafma Usulkan Adanya Dinas Masyarakat Adat

Jaga Hak Adat Terpenuhi, Dr. Filep Wamafma Usulkan Adanya Dinas Masyarakat Adat

September 28, 2026
Dinilai Kurang Transparan, Pokja Wartawan Pemko Bekasi Serukan Perbaikan Ke Kabag Prokopim Kota Bekasi

Dinilai Kurang Transparan, Pokja Wartawan Pemko Bekasi Serukan Perbaikan Ke Kabag Prokopim Kota Bekasi

September 28, 2026
Kemendag Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi Digital dan Inovasi Produk

Kemendag Dorong UMKM Manfaatkan Teknologi Digital dan Inovasi Produk

September 28, 2026
Anggota KY Imbau Para Hakim Tak Perlu Khawatir Jika Dilaporkan Masyarakat

Anggota KY Imbau Para Hakim Tak Perlu Khawatir Jika Dilaporkan Masyarakat

September 28, 2026
Menbud Dorong Kolaborasi untuk Perkuat Ekosistem Sastra Indonesia 

Menbud Dorong Kolaborasi untuk Perkuat Ekosistem Sastra Indonesia 

September 28, 2026
Misi Kemanusiaan di Laut Lepas, KRI WSH-991 Evakuasi 11 Warga Papua Nugini Yang Hanyut di Perairan Samudera Pasifik

Misi Kemanusiaan di Laut Lepas, KRI WSH-991 Evakuasi 11 Warga Papua Nugini Yang Hanyut di Perairan Samudera Pasifik

September 28, 2026
Dilengkapi Mini Basket dan Lapangan Badminton, Wali Kota Bekasi Resmikan RTH di Kaliabang Tengah

Dilengkapi Mini Basket dan Lapangan Badminton, Wali Kota Bekasi Resmikan RTH di Kaliabang Tengah

September 27, 2026
TPNPB Ditangani dengan Operasi Keamanan dan Pendekatan Teritorial

TPNPB Ditangani dengan Operasi Keamanan dan Pendekatan Teritorial

September 27, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Selasa, September 29, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Daerah

Indonesia Didesak Mengakui Keberadaan Masyarakat Adat dan Hentikan Diskriminasi di Tanah Papua

[Fokus Berita]

November 5, 2025
in Daerah, Fokus Berita, News
0
0
SHARES
265
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
FOTO: Perlawanan ekologis dan spiritual masyarakat adat Suku Awyu di Papua//ISTIMEWA

JAYAPURA, satukanindonesia.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui para ahli hak asasi manusia mendesak, Pemerintah Republik Indonesia segera mengakui secara resmi keberadaan Masyarakat Adat dan menjadikan mereka mitra sejajar dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Seruan keras ini disampaikan melalui pernyataan resmi Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa, pada 4 November 2025.

Dalam pernyataan tersebut, PBB menyoroti, situasi masyarakat adat di Indonesia terutama di Tanah Papua sebagai salah satu isu paling mendesak dalam konteks hak asasi manusia dan pembangunan berkelanjutan.

Para ahli PBB menyatakan, keprihatinan mendalam atas belum adanya pengakuan formal terhadap masyarakat adat di Indonesia yang berdampak langsung pada pelanggaran sistemik terhadap hak-hak mereka.

“Mengakui semua kelompok, menghormati perbedaan mereka, dan memungkinkan mereka berkembang dalam semangat demokrasi sejati, tidak menyebabkan konflik, justru mencegahnya,”demikian dikutip dari pernyataan resmi para ahli PBB, Rabu (05/11/2025).

Menurut mereka, tanpa pengakuan hukum yang kuat, masyarakat adat terus menjadi kelompok paling rentan terhadap diskriminasi, kehilangan tanah, dan marginalisasi sosial-ekonomi.

PBB juga secara khusus menyoroti, Tanah Papua sebagai titik kritis dalam persoalan masyarakat adat Indonesia. Revisi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang disahkan pada 2021 dinilai, justru memusatkan kekuasaan di Jakarta dan melemahkan tata kelola adat di tingkat lokal.

Kebijakan itu disebut memperparah kemiskinan struktural, penganiayaan, dan pengungsian paksa terhadap komunitas adat di wilayah paling timur Indonesia.

Dalam laporan tersebut, para ahli PBB menggambarkan bagaimana militerisasi wilayah adat dan eksploitasi sumber daya alam di Papua melalui pertambangan, infrastruktur besar, dan proyek perkebunan telah memperkecil ruang hidup masyarakat adat serta memperlemah partisipasi mereka dalam pembangunan.

PBB juga menyoroti, kembalinya pola transmigrasi di Papua yang dianggap menyerupai pendekatan kolonial masa lalu. Program ini dinilai berpotensi mengubah komposisi demografi Papua, mempercepat asimilasi paksa, dan mengancam kelangsungan budaya serta bahasa masyarakat adat.

Selain itu, pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan proyek ekstraktif seperti tambang, perkebunan sawit, serta pembangunan jalan dan bendungan besar kerap dilakukan tanpa persetujuan bebas dan diinformasikan secara penuh (Free, Prior and Informed Consent atau FPIC) dari masyarakat adat yang terdampak.

Akibatnya, banyak komunitas adat kehilangan tanah ulayat, menghadapi kerusakan ekologis, dan terjebak dalam militerisasi ruang hidup mereka.

Para ahli PBB juga menyoroti, meningkatnya kriminalisasi terhadap pembela hak masyarakat adat, termasuk di Papua.

Banyak aktivis dan pemimpin adat dilaporkan mengalami penangkapan sewenang-wenang, intimidasi, hingga penyiksaan, bahkan distigmatisasi sebagai separatis atau teroris hanya karena memperjuangkan hak tanah leluhur. Ribuan keluarga adat Papua juga dilaporkan hidup dalam pengungsian internal, akibat operasi keamanan dan proyek pembangunan besar di wilayah mereka.

“Beberapa masyarakat adat di Indonesia sedang didorong menuju pemusnahan lambat,”tulis para ahli PBB dalam laporan tersebut.

Dalam pernyataannya, para ahli PBB mendesak Pemerintah Indonesia mengambil empat langkah konkret.

Pertama, mengakui masyarakat adat secara hukum dan politik sebagai entitas sah dengan hak kolektif atas tanah, budaya, dan sumber daya alam.

Kedua, menjamin pelaksanaan FPIC sebelum proyek pembangunan dilakukan di wilayah adat.

Ketiga, meninjau kembali kebijakan Otonomi Khusus Papua agar memperkuat, bukan melemahkan, tata kelola adat lokal..

Keempat, menghentikan kriminalisasi terhadap pembela hak adat dan memastikan investigasi independen terhadap dugaan pelanggaran HAM di wilayah adat.

 

PBB juga menyinggung, lambannya proses pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat di Indonesia. Meski pemerintah telah mendukung Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) sejak 2007, namun hingga kini RUU Masyarakat Adat belum juga disahkan.

Koalisi masyarakat sipil menilai, pengesahan RUU tersebut sangat penting untuk memberikan payung hukum yang kuat bagi masyarakat adat, mencegah konflik agraria, dan memastikan keadilan sosial bagi komunitas adat di seluruh Nusantara, terutama di Tanah Papua.

Pernyataan para ahli PBB ini menjadi peringatan moral bagi pemerintah Indonesia agar tidak menutup mata terhadap realitas masyarakat adat yang terpinggirkan. Pengakuan, perlindungan, dan pelibatan masyarakat adat dalam proses pembangunan nasional bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi juga pondasi bagi perdamaian dan keberlanjutan bangsa.

 

“Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan kepemimpinan moral di Asia Pasifik dengan menempatkan masyarakat adat sebagai mitra sejajar, bukan objek pembangunan,”tandas pernyataan resmi OHCHR. [**/GRW]

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: HAMMasyarakat AdatOtsusPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
ShareTweetSend

Related Posts

Wakil Ketua Baleg DPR Dorong Masyarakat Adat Dilibatkan dalam RUU Reforma Agraria

Wakil Ketua Baleg DPR Dorong Masyarakat Adat Dilibatkan dalam RUU Reforma Agraria

September 14, 2026
MSG desak Indonesia Ijinkan Komisaris Tinggi PBB kunjungi Papua

MSG desak Indonesia Ijinkan Komisaris Tinggi PBB kunjungi Papua

September 5, 2026
Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Responsif dan Inklusif

Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Responsif dan Inklusif

September 4, 2026

Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Responsif dan Inklusif

September 2, 2026

Masyarakat Adat di Kampung Onggari Papua Selatan Tolak Melepas Tanah Adat

Agustus 22, 2026
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?