• Latest
  • Trending
  • All
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Internasional
  • Ragam Info
Pendapat Pengamat Terkait SKB 3 Menteri

Pendapat Pengamat Terkait SKB 3 Menteri

Februari 13, 2021
Program Sarjana Kehutanan dan Ekonomi Bisnis Berbasis Adat Hadir di Tanah Papua

Program Sarjana Kehutanan dan Ekonomi Bisnis Berbasis Adat Hadir di Tanah Papua

Agustus 10, 2026
Hari Masyarakat Adat Internasional, 14 Pernyataan Sikap Diserukan antaranya Tutup Bandara Antariksa di Biak

Hari Masyarakat Adat Internasional, 14 Pernyataan Sikap Diserukan antaranya Tutup Bandara Antariksa di Biak

Agustus 10, 2026
ADVERTISEMENT
Tidak Ada Lagi Kerahasiaan Terkait Perjanjian dengan Negara Lain

Tidak Ada Lagi Kerahasiaan Terkait Perjanjian dengan Negara Lain

Agustus 10, 2026
Wakil Ketua Komisi X DPR Sebut SNT Cetak Generasi Unggul Berkarakter

Wakil Ketua Komisi X DPR Sebut SNT Cetak Generasi Unggul Berkarakter

Agustus 10, 2026
Menko PMK Dorong SNT Integrasikan Sekolah untuk Pemerataan Pendidikan

Menko PMK Dorong SNT Integrasikan Sekolah untuk Pemerataan Pendidikan

Agustus 10, 2026
Komisi Yudisial Tetapkan 14 Calon Hakim untuk Jalani Uji Kelayakan di DPR

Komisi Yudisial Tetapkan 14 Calon Hakim untuk Jalani Uji Kelayakan di DPR

Agustus 10, 2026
Anggota Komisi II DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang Rencana Kenaikan Gaji Kepala Daerah

Anggota Komisi II DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang Rencana Kenaikan Gaji Kepala Daerah

Agustus 10, 2026
Kapolda Kepri Ikuti Konferensi Pers Pengungkapan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamine di Perairan Batam

Kapolda Kepri Ikuti Konferensi Pers Pengungkapan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamine di Perairan Batam

Agustus 10, 2026
WPNCL Lakukan Pembenahan Struktur Organisasi

WPNCL Lakukan Pembenahan Struktur Organisasi

Agustus 10, 2026
Dunia Mengenal Papua Lewat Lensa Kolonial : Romantisme Ilmu Pengetahuan atau Eksploitasi Budaya?

Dunia Mengenal Papua Lewat Lensa Kolonial : Romantisme Ilmu Pengetahuan atau Eksploitasi Budaya?

Agustus 10, 2026
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro
Senin, Agustus 10, 2026
  • Login
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Ragam Info
  • Daerah
  • GALERI SatukanIndonesia.com
  • Infografis
  • Metro
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional

Pendapat Pengamat Terkait SKB 3 Menteri

[Nasional]

Februari 13, 2021
in Nasional
0
0
SHARES
118
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
ADVERTISEMENT
Dr. Devie Rahmawati

Jakarta, SatukanIndonesia.com – Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang pakian seragam dan atribut sekolah merupakan semangat toleransi antaragama di lingkungan sekolah, dan cerminan dari sila ketiga Pancasila, hal ini diungkapkan oleh dosen dan pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, M. Hum.

Dosen dan Peneliti Tetap Program Vokasi Hubungan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan toleransi adalah upaya untuk memahami orang lain, salah satunya dengan tidak berkata dan tidak melakukan sesuatu kepada orang lain jika kita sendiri tidak nyaman bila orang lain mengatakan atau melakukannya kepada diri sendiri.

“Toleransi merupakan cerminan dari sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Masyarakat hendaknya paham bahwa manifestasi dari toleransi ialah penghormatan terhadap seluruh manusia tanpa terkecuali, tanpa adanya unsur pemaksaan seperti yang termuat dalam SKB 3 Menteri itu,” kata Devie, dilansir dari Antara, Sabtu (13/02/2021).

Dia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar. Di negara kepulauan ini, berbagai suku, agama, ras dan golongan dapat hidup damai, saling menghormati dan sepakat untuk bahumembahu membangun negeri.

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, bukan hanya menjadi kekayaan lokal Nusantara, tetapi kekayaan kemanusiaan. Tuhan yang menghadirkan perbedaan itu. Karena justru dengan perbedaan, saling melengkapi.

“Indonesia ialah pusaka peradaban. Dimana lagi, di dunia, ada masyarakat dalam jumlah sangat besar yang memiliki perbedaan dari mulai warna kulit, wilayah tinggal kepulauan, budaya, makanan, pakaian, nyanyian, tarian, keyakinan, hingga iklim dan cuaca berbeda, yang menyatu sebagai bangsa,” tutur penerima Australian Award tahun 2019 tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dengan adanya perbedaan yang bermacam-macam tersebut, hanya ada satu kekuatan yang mampu merekatkan seluruh perbedaan fisik, geografis, historis, dan sosiologis ini yaitu toleransi.

”Sebagai ilustrasi, apakah kita rela, bila kita ‘dipaksa’ melakukan sesuatu seperti menggunakan atribut yang merupakan milik keyakinan orang lain? Kalau jawaban-nya tidak, maka sudah seyogianya, kita tidak melakukan hal tersebut kepada orang lain juga,” ujar Devie.

Praktisi komunikasi itu mengatakan butuh kesabaran dan konsistensi untuk mengkomunikasikan filosofi dan praktik dari toleransi itu.

Karena itu, Devi menyarankan kepada pemerintah untuk menggandeng para tokoh yang akan didengar oleh setiap kelompok di masyarakat untuk menyosialisasikan semangat dari SKB 3 Menteri itu.

“Para tokoh itu yang perlu diajak bicara terlebih dahulu tentang semangat dari SKB ini,” ucap Devie.

Menurutnya, peran tokoh-tokoh publik yang memiliki pengaruh besar di setiap wilayah atau kelompok memang dibutuhkan karena karakter sosial masyarakat Indonesia yang hierarkis, antara patron dan klien.

Devie mengatakan patron adalah individu yang dianggap berada di puncak hierarki yang dihormati, diteladani, hingga diikuti oleh para klien, yakni para individu yang berada di posisi bawah dalam hierarki sosial.

Ketika para patron mendemonstrasikan suatu aksi, maka berpeluang besar diikuti oleh masyarakat luas, sebagai klien.

Lantas siapa saja para patron tersebut? Menurut Devie, para patron adalah mereka yang masuk dalam kategori “4 K” yaitu individu-individu yang memiliki pertama, kekuasaan (ketua rukun tetangga, lurah, kepala desa, hingga presiden). Kedua, adalah ketenaran (selebritas). Ketiga, kekayaan, dan keempat, kewibawaan (tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat).

”Ketika para patron (panutan publik) itu menunjukkan sebuah perilaku, maka akan menimbulkan dampak ikutan (bandwagon effect). Ibarat lokomotif dan gerbong. Ketika lokomotif mengarah ke kanan, maka gerbong berpeluang mengikuti juga ke kanan,” kata dia.

Tugas pemerintah melakukan identifikasi tokoh publik yang masuk di antara kategori 4 K tersebut. Lalu dirangkul untuk dimohonkan menjelaskan kepada masyarakat tentang semangat dari SKB ini, tutur Devie. (FA/SI).

ADVERTISEMENT

Komentar Facebook

Tags: PengamatSKBSKB 3 MenteriToleransi
ShareTweetSend

Related Posts

Pengamat dan DPR Dorong Evaluasi Rangkap Jabatan ASN sebagai Komisaris BUMN

Pengamat dan DPR Dorong Evaluasi Rangkap Jabatan ASN sebagai Komisaris BUMN

November 1, 2025
Pesan Harmonisasi Wawali Harris Bobihoe Dihadapan Jamaat Gereja Katolik Santo Yohanes II

Pesan Harmonisasi Wawali Harris Bobihoe Dihadapan Jamaat Gereja Katolik Santo Yohanes II

Oktober 26, 2025
Wali Kota Bekasi Resmikan Gereja Kristen Pasundan Seroja Sebagai Simbol Kota Harmonis

Wali Kota Bekasi Resmikan Gereja Kristen Pasundan Seroja Sebagai Simbol Kota Harmonis

Oktober 7, 2025

Anggota DPRD Jatim Yordan Batara-Goa Ajak Tokoh Agama Jadi Agen Moderasi Beragama

September 11, 2025

SKB 3 Menteri Tentang Seragam Sekolah Dibatalkan MA

Mei 7, 2021
Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Redaksi
  • Karir

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Politik
  • Profil
  • Metro

© 2018 SatukanIndonesia.com - Saluran Berita Pemersatu Bangsa

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?