
MANOKWARI, SATUKANINDONESIA.Com –– Dua senior Persipura Jayapura, Ricardo Salampessy dan Boaz Solossa, tak mau timnya kembali terpuruk pada kompetisi Liga 2 musim depan.
Pasalnya, mereka sudah melewati dua musim yang berat di babak play-off dan nyaris terdegradasi.
Ricardo Salampessy yang kini mengemban tugas sebagai juru taktik di Persipura mengungkapkan, kegagalan timnya lolos ke babak promosi pada Liga 2 dua musim berturut-turut karena persiapan tim yang tak maksimal.
Ia mengaku, membutuhkan waktu yang cukup agar bisa membentuk dan meracik skuad yang ideal untuk bisa bersaing di kompetisi. Pasalnya, sebagian kontestan Liga 2 jauh lebih siap ketimbang Persipura.
“Dua musim yang berat. Pada musim lalu saya masuk ke tim ini juga di babak play-off. Kemudian musim ini saya mulai dari awal. Inti dari itu adalah persiapan, kita membutuhkan persiapan yang baik agar bisa membentuk tim yang lebih solid, karena apapun itu akan sangat sulit sekali untuk seorang pelatih dalam membentuk tim kalau tidak punya waktu yang ideal untuk menyiapkan tim,”kata Salampessy, Selasa (04/03/2025).
Ia berharap, hal itu menjadi catatan penting yang harus dievaluasi oleh Persipura. Pengalaman dua musim yang sudah dilewati ia minta dijadikan sebagai pembelajaran agar Persipura lebih baik lagi dan lebih siap menghadapi kompetisi musim depan.
“Apapun itu, kita sudah melewatinya. Itu menjadi catatan evaluasi bagi kami, semoga di musim berikutnya pengalaman yang kita alami selama dua musim bisa menjadi pelajaran agar kita bisa mempersiapkan tim lebih baik lagi dan membawa tim ini ke arah yang lebih baik dan bersaing untuk promosi ke Liga 1 dan kembali ke tempat kami yang semestinya,”ujarnya.
Kapten Persipura Boaz Solossa juga berharap hal yang sama. Ia mengaku, Liga 2 kemarin menjadi musim yang berat bagi timnya.
Diharapkan, keterpurukan tak lagi dialami Persipura. Maka, ia menyarankan, timnya harus punya persiapan yang optimal menjelang keikutsertaan pada kompetisi Liga 2 mendatang.
‘Kami tahu tahun ini agak berat bagi kami, dan sudah dua tahun berturut-turut Persipura mengalami hal yang seperti ini. Saya mohon supaya tahun depan kami bisa lebih mempersiapkan tim ini lagi supaya jangan sampai hal ini terulang lagi, karena semua pasti tidak suka dengan keadaan ini. Kami yang bermain memiliki beban yang luar biasa, tapi Puji Tuhan kita bisa melewati itu,”kata pemain yang akrab disapa Bochi itu.
Hanya saja ia menilai keterlambatan memulai persiapan menjadi faktor kegagalan timnya. Ia bersyukur timnya bisa cepat bangkit di pertengahan musim meski menuai hasil buruk pada tiga laga awal.
“Tujuan saya tentu saya masih berada dalam tim dan saya harus kembali membawa tim ini ke Liga 1, saya rasa kita bisa dengan permainan yang sebetulnya cukup baik. Saya rasa kalau kita punya persiapan yang baik pasti bisa. Tapi karena kami terlambat start, awal-awal kami kewalahan tapi pertengahan putaran pertama kami mulai bagus, akhirnya kami masih bisa bertahan sampai hari ini,”ujarnya.
Bochi dan rekan-rekannya tetap siap, untuk menghadapi kompetisi musim depan. Namun soal persiapan tim ia mengembalikan kepada manajemen.
“Kalau manajemen siap, kami semua siap. Saya masih bisa bermain untuk memberikan yang terbaik, dan tahun depan kalau Tuhan berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, kita pasti bisa membawa tim ini kembali ke Liga 1 dan ke tempat yang sebenarnya,”katanya.
Kabar tak sedap sedang menghampiri tim berjulukan Mutiara Hitam itu terkait hak atau gaji pemain, yang masih nunggak hingga berakhirnya kompetisi.
Manajemen Persipura mengaku, keterlambatan gaji pemain itu karena belum menerima dana sponsorship dari PT Freeport Indonesia.
Mereka terus berupaya menghubungi PT Freeport, untuk memberikan kepastian.
Media officer Persipura, Eveerth Joumilena menyampaikan gaji pemain Persipura masih menunggu dana sponsorship dari PT Freeport cair.
“Sampai sekarang dana sponsorship dari Freeport Indonesia belum cair, kalau sudah cair pasti kita bayarkan, semua syarat administrasi untuk itu sudah kita serahkan, jadi tinggal tunggu pencairan saja,”ujar Eveerth.
Menurutnya, sejauh ini manajemen sudah berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tim agar tetap beroperasi, termasuk meminjam dana dari pihak lain.
“Semua sudah dilakukan, jadi jangan dianggap kita diam saja tanpa berbuat apa-apa, termasuk dana pribadi dari Pak Ketua Umum dan Pak Manajer,”katanya.
Kendati demikian, Ricardo Salampessy membeberkan, perhatian manajemen masih ada untuk Persipura. Hanya saja, katanya, perhatian dari manajemen itu tak nampak di khalayak umum. Orang-orang dalam tim tahu betul apa yang sudah dilakukan oleh manajemen.
“Ada orang-orang yang mendampingi kita sehari-hari, yang mewakili manajemen. Dan sehabis kompetisi kemarin ada apresiasi yang diberikan untuk seluruh komponen tim dan itu menjadi salah satu perhatian yang luar biasa dari manajemen dalam perjalanan tim ini, dan kita juga bisa memahami situasi yang dialami oleh manajemen,”kata Salampessy.
Meski dengan kondisi itu, ia salut dengan para pemainnya yang tak pernah mengeluh dan tetap bermain dengan semangat juang yang tinggi hingga bisa lolos dari degradasi di akhir musim.
“Puji Tuhan kita bisa melewati musim ini tanpa ada konflik, tanpa ada hal-hal yang membuat kita saling salah pengertian. Akhirnya di rumah kami sendiri kami bisa memastikan bertahan di kompetisi Liga 2 musim depan,”pungkasnya. [**/GRW]













